IHSG Hari Ini Melemah, Konflik Iran-AS Sebabkan ketidakpastian Arah The Fed
📅 Jumat, 06 Mar 2026, 10:15 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA
JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat (6/3) bergerak melemah, seiring konflik antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) menyebabkan ketidakpastian arah suku bunga acuan The Fed.
IHSG dibuka melemah 11,07 poin atau 0,14 persen ke posisi 7.699,47. Sementara, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 1,61 poin atau 0,20 persen ke posisi 786,21.
"Kiwoom Research perkirakan technical rebound yang terjadi kemarin tidak akan berumur panjang, secara teknikal persis di gerbang resistance kritikal 7.712-7.720. Para investor disarankan untuk masih perbesar posisi cash di penghujung pekan ini untuk antisipasi high volatility during weekend," ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata dalam kajiannya di Jakarta, Jumat.
Dari mancanegara, eskalasi konflik antara Iran dengan AS dan Israel telah memasuki hari ke enam, yang meningkatkan kekhawatiran inflasi energi dan ketidakpastian arah kebijakan The Fed.
Terdekat, bank sentral AS tersebut akan menyelenggarakan pertemuan The Federal Open Market Committee (FOMC) pada 17-18 Maret 2026, untuk menentukan kebijakan suku bunga acuannya.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Pasar kini memperkirakan pemangkasan suku bunga The Fed sekitar 40 bps sepanjang 2026, turun dari sekitar 50 bps sebelum konflik dimulai," ujar Liza.
Iran meluncurkan gelombang rudal ke Israel, sementara jet tempur AS dan Israel terus menyerang sejumlah target di Iran.
Serangan terhadap kapal tanker di kawasan Teluk serta drone Iran yang memasuki wilayah Azerbaijan meningkatkan risiko meluasnya konflik ke negara produsen energi lain.
Sebaiknya Anda baca juga:
Presiden Donald Trump juga menyatakan AS ingin memiliki peran dalam menentukan pemimpin Iran berikutnya.
Sementara itu, IMF memperingatkan konflik ini berpotensi menguji ketahanan ekonomi global dan dapat memicu tekanan inflasi serta perlambatan pertumbuhan jika berlangsung lama.
Harga minyak melonjak tajam di tengah kekhawatiran gangguan pasokan dari Timur Tengah, Brent naik 4,93 persen ke 85,41 dolar AS per barel, sementara US WTI melonjak 8,51 persen ke 81,01 dolar AS per barel.
Dari dalam negeri, perlambatan ekonomi China seperti disebutkan pada forum Two Sessions berpotensi menekan ekonomi Indonesia karena China merupakan mitra dagang terbesar dengan porsi sekitar 24 persen dari total ekspor nonmigas Indonesia pada 2025 senilai sekitar 64,82 miliar dolar AS.
Dengan demikian, penurunan aktivitas industri China dapat mengurangi permintaan komoditas dan bahan baku dari Indonesia.
Selain perdagangan, dampaknya juga berpotensi muncul pada investasi karena China merupakan salah satu investor terbesar di Indonesia dengan realisasi sekitar 7,5 miliar dolar AS pada 2025, dan secara historis setiap perlambatan 1 persen ekonomi China dapat mengurangi pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 0,3 persen.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!