Harga Kedelai Naik, Perajin Tahu Tempe di Lebak Mogok Produksi
📅 Minggu, 20 Nov 2022, 16:28 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/Mansur
LEBAK - Perajin tahu dan tempe di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten mogok produksi akibat harga kedelai melonjak naik dari Rp420 ribu menjadi Rp700 ribu per karung dengan berat 50 kilogram.
"Kami mogok produksi selama tiga hari, dari Sabtu (19/11) sampai Senin (21/11)," kata Ketua Asosiasi Tahu Tempe Kabupaten Lebak Mad Soleh di Lebak, Sabtu (19/11).
Sebenarnya, pelaku usaha tahu tempe di Kabupaten Lebak cukup berat mogok produksi, karena terjadi kerugian besar.
Mereka pengusaha tahu tempe, pekerja, pedagang pengecer, pedagang bakulan, pengemudi hingga buruh panggul kayu bakar, menganggur akibat dampak mogok produksi tersebut.
Sebaiknya Anda baca juga:
Seharusnya, kata dia, perguliran uang dari produksi tahu tempe ratusan juta/hari, namun sekarang mereka menghentikan kegiatan produksi.
Perajin tahu tempe melakukan mogok produksi itu diharapkan konsumen dapat memahaminya, sebab jika harga satuan tidak dinaikkan dipastikan perajin terancam bangkrut.
"Kami sudah sepakat bersama perajin menaikkan Rp500/bungkus dengan isi tujuh satuan tahu," kata Soleh.
Sebaiknya Anda baca juga:
Samsul (55) seorang perajin tahu warga Rangkasbitung mengaku menghentikan produksinya akibat harga kedelai di pasaran sehingga berdampak terhadap omzet menurun dan tidak sebanding dengan biaya produksi dan upah kerja.
Saat ini, ia sudah tidak memiliki modal, terlebih harga kedelai melonjak dan membutuhkan modal dua kali lipat dengan harga Rp 420 ribu menjadi Rp700 ribu/karung.
"Kami berharap konsumen dapat menerima kenaikan harga tahu tempe,sehingga perajin bisa bertahan usaha dan bisa meraup keuntungan," katanya.
Sementara itu, sejumlah pedagang pengecer tahu dan tempe di Pasar Rangkasbitung mengaku bahwa mereka kini tidak berjualan setelah adanya mogok produksi sehingga terpaksa menganggur sambil menunggu pekan depan.
"Kami berjualan tahu tempe bisa meraup keuntungan Rp150 ribu dan jika produksi mogok tentu mengalami kerugian," kata Maman (45) seorang pedagang tahu di Pasar Rangkasbitung.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!