Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Empat Negara di Asia Pasifik Masih Terpuruk

📅 Jumat, 10 Mei 2024, 00:03 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Empat Negara di Asia Pasifik Masih Terpuruk Doc: ISTIMEWA
Ket. ALEXIA LATORTUE Asisten Menteri Keuangan AS - Kawasan ini menghadapi risiko, termasuk kondisi keuangan global yang lebih ketat, perlambatan permintaan domestik di Tiongkok dan tingkat utang yang tinggi.

JAKARTA - Pemerintah Amerika Serikat (AS) melihat pemulihan ekonomi di Asia Pasifik pascapandemi Covid-19 belum merata. Setidaknya ada empat negara yang berada dalam situasi yang masih terpuruk, yaitu Pakistan, Sri Lanka, Maladewa, dan Laos.

Asisten Menteri Keuangan AS, Alexia Latortue, dalam Pertemuan Tahunan Asian Development Bank (ADB) ke- 57 di Tbilisi, Georgia, Minggu (5/5), mengatakan perlunya reformasi di negara-negara tersebut.

Secara keseluruhan, kawasan Asia Pasifik kata, Latortue, tampak baik dengan pertumbuhan yang relatif kuat dan tangguh. Namun demikian, masih ada beberapa negara yang terpuruk akibat faktor eksternal dan internal.

Kondisi tersebut tidak terlepas dari hantaman empat krisis yang terjadi sekaligus selama beberapa waktu terakhir, mulai dari perubahan iklim, konflik, kerawanan pangan, dan peningkatan utang yang semakin besar.

"Secara lebih luas, kawasan ini menghadapi risiko, termasuk kondisi keuangan global yang lebih ketat, perlambatan permintaan domestik di Tiongkok dan tingkat utang yang tinggi," jelasnya.

ADB, kata Latortue, dapat memainkan peran agar negara yang jatuh ke jurang krisis bisa pulih kembali. Sementara negara yang kini mampu tumbuh positif dapat mempertahankan momentum itu.

"Ketika negara-negara berupaya mempertahankan momentum pertumbuhan dan mengelola risiko-risiko ini, mereka akan terus mengandalkan lembaga-lembaga keuangan internasional seperti ADB," paparnya.

"Agenda ini masih jauh dari selesai. Tantangan-tantangan yang mendesak seperti perubahan iklim, konflik, dan kerapuhan, serta pandemi mengancam kemajuan pembangunan yang telah dicapai dengan susah payah, dan kami mendesak akan komitmen berkelanjutan untuk melakukan reformasi," pungkas Latortue.

Beratkan Negara Berkembang

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Katolik Atmajaya Jakarta, YB Suhartoko, yang diminta tanggapannya mengatakan pemulihan ekonomi yang tidak merata di kawasan Asia Pasifik akan memberatkan negara berkembang.

Hal itu karena negara sedang berkembang dihadapkan kepada peningkatan pertumbuhan ekonomi, tetapi di sisi lain mereka menghadapi ketidakstabilan nilai tukar dan inflasi.

"Ini akan sangat memberatkan mereka karena kebijakan ekonomi dihadapkan pada pilihan sulit, pro growth apa pro stabilisasi. Jika memilih keduanya maka yang akan terjadi tidak tercapai tujuan kebijakan yang optimal," tegas Suhartoko.

Untuk itu, lanjutnya, perlu dilakukan suntikan dana dari lembaga internasional untuk membantu pemulihan ekonomi mereka.

Dalam skala global perlu diupayakan kerja sama multilateral terutama bagi negara maju untuk sedikit mengerem pemulihan ekonominya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Megapolitan
Pemutihan Pajak Kendaraan B...
Megapolitan
30 Rumah di Tanah Tinggi Ja...
Megapolitan
Dua WNA Ditemukan Meninggal...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.