Deeskalasi AS dan Tiongkok Diharapkan Bisa Akhiri Perang Dagang
📅 Jumat, 25 Jul 2025, 01:05 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: Mandel NGAN/AFP
WASHINGTON - Menjelang pembicaraan perdagangan lanjutan antara AS dan Tiongkok, Menteri Keuangan Scott Bessent pada Rabu (23/7), mengatakan, batas waktu untuk kembali ke tingkat tarif yang lebih tinggi dapat diperpanjang hingga 90 hari.
Disebutkan bahwa para pejabat tinggi dua negara dengan perekonomian terbesar dunia itu akan bertemu di Swedia pada tanggal 28 Juli dan 29 Juli. Bessent turut menjadi salah satu delegasi AS, sedangkan Tiongkok oleh Wakil Perdana Menteri, He Lifeng.
“Kami berada dalam posisi yang sangat baik dengan Tiongkok saat ini,” kata Bessent kepada Bloomberg Television pada Rabu (23/7).
Dalam pembicaraan mendatang kemungkinan akan berlanjut ke luar isu mineral langka dan pengendalian ekspor, tetapi beralih ke diskusi yang lebih besar.
Ditanya tentang batas waktu 12 Agustus, saat tarif balasan yang dikurangi akan kembali ke tingkat yang lebih tinggi,Bessent mengisyaratkan keterbukaan terhadap perpanjangan yang signifikan.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Saya pikir kita bisa mempercepatnya, mungkin dalam kelipatan 90 hari,” katanya.
“Kedua belah pihak telah meredakan ketegangan, dan saya rasa kita bisa mengadakan pertemuan rutin dengan mereka secara berkala,” ujarnya.
Washington dan Beijing telah menerapkan tarif yang meningkat pada ekspor masing-masing pada bulan April, mencapai tingkat tiga digit yang mahal, tetapi kedua belah pihak mencapai kesepakatan untuk menurunkannya sementara setelah negosiasi di Jenewa.
Sebaiknya Anda baca juga:
Namun, gencatan perang dagang tersebut akan berakhir pada Agustus.
Lebih lanjut Bessent memperkirakan diskusi yang akan datang dapat mencakup pembicaraan tentang pembelian minyak Russia dan Iran oleh Tiongkok, di samping masalah keamanan. Ia mengatakan kedua negara juga akan membahas “perjanjian pembelian”, terutama di bidang pertanian.
Tensi Ketidakpastian Turun
Menanggapi sikap AS itu, Dosen Magister Ekonomi Terapan Unika Atma Jaya, YB. Suhartoko mengatakan tekanan terhadap perang tarif nampaknya mulai mereda, sebab jika AS memaksakan tarif tinggi terhadap Tiongkok maka sebenarnya yang paling dirugikan adalah konsumen. Apalagi ekspor utama Tiongkok ke AS meliputi peralatan penyiaran, komputer, suku cadang mesin kantor, dan berbagai produk elektronik lainnya.
Penurunan tarif terhadap banyak negara juga terjadi. “Ini juga menunjukkan AS mengurangi tekanan ke negara mitra, namun dibarengi permintaan. Paling tidak tensi ketidakpastian dunia mulai turun, sehingga diharapkan perekonomian dunia cepat membaik,”ungkapnya.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira mentakan, yang dibutuhkan dunia saat ini adalah deeskalasi perang dagang termasuk antara AS dan Tiongkok. Deeskalasi itu diharapkan memang bisa memunculkan optimisme terhadap negara negara pemasok seperti Indonesia misalnya memasok bahan baku untuk Tiongkok, lalu Tiongkok nanti ekspor ke AS sehingga ini bisa mendorong pemulihan dari sisi ekspor negara seperti Indonesia.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!