Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

-

Covid-19 dan Perlawanan Gaya Hidup Masyarakat

📅 Kamis, 28 Mei 2020, 21:18 WIB | Oleh: Tim Penulis
Covid-19 dan Perlawanan Gaya Hidup Masyarakat Doc: Dok Pribadi
Ket. Dosen Ilmu Komunikasi Universitas AlAzhar Indonesia (UAI) Jakarta, Damayanti Wardyaningrum

Covid-19 dan Perlawanan Gaya Hidup Masyarakat

Jakarta- Di penghujung akhir Ramadan telah terjadi beberapa peristiwa yang membuat masyarakat miris. Disaat sebagian masyarakat berjuang kelelahan melawan Covid-19 baik di berbagai rumah sakit yaitu tenaga medis bersama para pasiennya termasuk masyarakat yang berdiam diri dirumah ternyata sejumlah masyarakat tetap berani berkerumun untuk beribadah dan berbelanja.

Demikian percakapan pembuka Koran Jakarta dengan Dosen Ilmu Komunikasi Universitas AlAzhar Indonesia (UAI) Jakarta, Damayanti Wardyaningrum, terkait perilaku masyarakat dalam menghadapi wabah virus korona yang telah ditetapkan WHO sebagai pandemi global itu.

Bulan lalu kata Damayanti, kita mendengar di sejumlah wilayah warganya positif korona sesuai hasil tes pasca mereka menjalankan ibadah secara bersama-sama. Kini kita dihadapkan pada jenis kerumunan baru, berbelanja jelang lebaran. Walikota Bogor, Bima Arya yang sempat dirawat selama 22 hari di rumah sakit saat awal periode korona hadir sampai turun ke lapangan menyerukan warganya agar membubarkan diri saat berkerumun berbelanja di pasar Anyar Bogor. Dari percakapan walikota dengan sejumlah pengunjung Pasar Anyar mereka mengaku harus memberi baju lebaran untuk anak. Alasan lainnya adalah karena rasa bosan berada dirumah terus.

"Inilah potret sebagian masyarakat kita yang masih tidak dapat membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Membedakan mana yang penting dan genting. Tagar Indonesia terserah pun merebak disusul berita peningkatan jumlah penderita beberapa hari kemudian," katanya.

Kasus Pasar Anyar memang bukan satu-satunya peristiwa kerumunan yang membuat sebagian masyarakat gemas dan kesal. Disaat situasi pandemi seperti ini dengan upaya pemerintah melakukan pembatasan sosial berskala besar, sebagian masyarakat justru tidak mampu menahan diri untuk keluar rumahbahkan berbondong-bondong mendatangi kerumunan. Pemerintah sedang berusaha keras agar titik puncak pertumbuhan kasus Covid-19 terjadi pada akhir Mei 2020 dan kurva melandai bertahap.

Damayanti yang dikenal juga sebagai Peneliti Komunikasi Bencana

menjelaskan, jika alasan warga ke luar rumah karena harus mencari sesuap nasi untuk bertahan hidup barangkali masih dapat dimaklumi meskipun hal ini juga disayangkan. Sebagian warga yang hidupnya tergantung pendapatan harian memang berada di posisi yang sulit. Terlebih jika dana bantuan sosial tak kunjung mereka terima. Namun jika sekelompok warga harus keluar rumah bahkan berada di kerumunan dengan alasan membeli baju untuk keperluan lebaran maka kini kita perlu berkaca.

"Sedemikian pentingkah baju lebaran di saat situasi seperti ini? Demikian sulitnyakah menjelaskan pada anggota keluarga bahwa untuk saat ini baju lebaran bukan prioritas?Barangkali tidak terlintas di benak warga yang berkerumun bahwa penularan korona dapat mengakibatkan kehilangan anggota keluarga yang dicintai," tanya Damayanti.

Kiranya momentum Covid-19 ini tandas Damayanti, juga kesempatan kita untuk menimbang kembali apakah selama ini kita melaksanakan ibadah Ramadan hingga merayakan lebaran dengan bobot landasan ibadah atau lebih banyak memenuhi kebutuhan konsumsi. Konsumtif di saat lebaran sudah menjadi gaya hidup masyarakat Indonesia. Bahkan trendnya setiap tahun cenderung meningkat. Jika dahulu orang berbelanja hanya untuk kebutuhan makan ketupat dan baju baru, kini belanja baju lebaran dilakukan hingga lewat tengah malam (midnight sale disejumlah pusat perbelanjaan). Jelang mudik lebaran biasanya trend penjualan mobil meningkat karena perlu mobil baru untuk pulang mudik.

Tradisi lebaran dalam budaya masyarakat Indonesia memang merupakan akulturasi antaraunsur agama dengan unsur budaya lokal. Kebiasaan bersilaturahmi yang dianjurkan agama dengan mengunjungi keluarga dan sanak saudara tentu merupakan tradisi yang agung. Selain masyarakat kita yang kolektif dan senang bertandang. Ditambah tujuan silaturami amat bak karena untuk saling memafkan.

Namun ketika tradisi tersebut harus ditunjang dengan kebutuhan lain seperti membawa hantaran, menyediakan menu makanan tertentu untuk tamu (yang juga memerlukan budget tertentu), hingga kewajiban mengenakan pakaian baru (berikut perlengkapannya seperti sepatu, tas dan asesoris) maka budaya konsumtif yang melingkupi nilai inti lebaran perlu kita renungkan kembali.

Ada beberapa ungkapan jelang akhir Ramadan tahun-tahun lalu. Bahwa masjid semakin sepi dan pusat perbelanjaan semakin ramai justru disaat sepuluh hari terakhir dimana seharusnya umat lebih meningkatkan ibadah. Daftar buka puasa bersama, belanja pakaian dan kue-kue adalah bagian dari gaya hidup dibulan Ramadan. Belum lagi dengan merebaknya penggunaan sosial media yang mendukung hasrat narsis serta menumbuhkan kebiasaan pamer pada diri seseorang.

Pengaruh Media Sosial

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Ekonomi
Menkeu Sebut Rupiah Rp18.00...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Kesempatan Emas: UEA Buka 500 Lowongan untuk Pekerja Migran Indonesia

Kesempatan Emas: UEA Buka 500 Lowongan untuk Pekerja Migran Indonesia

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.