'Coach' Patrick! Formasi Apa yang Kau Pakai, Tiga Bek Atau Empat Bek?
📅 Rabu, 08 Okt 2025, 17:04 WIB | Oleh: Opik
Doc: ANTARA/Zaro Ezza Syachniar
JAKARTA - Timnas Sepak Bola Indonesia akan menghadapi pertandingan yang disebut pelatih Patrick Kluivert sebagai "dua final" di putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia.
Bermain di Stadion King Abdullah Sport City, Jeddah, Arab Saudi, Indonesia akan menantang Arab Saudi dan Irak dari Grup B. Ketiga tim ini akan saling sikut untuk merebutkan satu tiket lolos otomatis ke Piala Dunia 2026.
Indonesia akan melawan Arab Saudi pada Kamis (9/10) pukul 00.15 WB, dilanjutkan melawan Irak tiga hari berikutnya pada Minggu (12/10).
Kluivert, sejak menangani Indonesia pada Januari, akan menjalani pertandingan ketujuhnya bersama tim Garuda. Enam pertandingan sebelumnya berakhir tiga kemenangan, satu seri, dan dua kekalahan.
Transfermark mencatat presentase poin per pertandingannya adalah 1,67 poin. Jumlah ini adalah yang terbaik dibandingkan periode kepelatihan pelatih asal Belanda itu di tim-tim sebelumnya, seperti Adana Demirspor (1,50 poin) dan di timnas Curacao dalam dua periode (pertama 1,38 poin dan kedua 0,83 poin).
Sebaiknya Anda baca juga:
Menjelang 90 menit pertama menuju Piala Dunia 2026 menghadapi Saudi, pertanyaan besar muncul. Sistem formasi mana yang akan dipakai Kluivert? Sistem formasi tiga bek atau sistem empat bek?
Kluivert meneruskan formasi tiga bek peninggalan pelatih sebelumnya Shin Tae-yong pada empat laga pertamanya, yang menghasilkan dua kemenangan penting disertai dua cleansheet melawan Bahrain dan China.
Sistem tiga bek yang dipegang Kluivert dalam grafik statistik menunjukkan peningkatan dalam penguasaan bola. Rata-rata penguasaan bola tim Kluivert dalam empat laga putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 adalah sebesar 44,75 persen. Angka ini di atas penguasaan bola enam laga putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 tim Shin Tae-yong dengan angka 41,3 persen penguasaan bola, demikian catatan Sofascore.
Sebaiknya Anda baca juga:
Namun, kabar buruknya hanya itu peningkatan yang dimiliki Kluivert. Sebab, dari aspek lainnya seperti jumlah tembakan, jumlah gol, dan jumlah kebobolan pertandingan, di bawah era kepelatihan Kluivert, catatan Indonesia justru mengalami penurunan.
Dari enam pertandingan, tim Shin Tae-yong menunjukkan efektivitas dalam bermain walaupun tanpa dominasi penguasaan bola. Mereka berhasil mencatatkan total 53 tembakan dalam enam pertandingan atau 8,83 tembakan per pertandingan. Dari jumlah tembakan ini, mereka menghasilkan enam gol.
Sementara itu, Kluivert, sentuhan ala "Belanda" miliknya belum menemukan "klik". Sebab, timnya hanya bisa menciptakan 29 tembakan dalam empat laga atau 7,25 tembakan per pertandingan, dari penguasaan bola yang lebih banyak. Jumlah ini menghasilkan tiga gol, yang semuanya dicetak oleh Ole Romeny.
Dari segi bertahan, shape antarpermain yang terlalu lebar membuat Indonesia kebobolan 11 gol dari empat pertandingan dengan rata-rata kebobolan 2,75 gol setiap pertandingan. Sebelas gol ini hanya tercipta di dua pertandingan melawan Australia dan Jepang.
Sebaliknya, shape antarpermain yang lebih rapat membuat lawan sulit menembus pertahanan Indonesia di era Shin Tae-yong, dengan mereka kebobolan sembilan gol dari enam pertandingan atau kebobolan rata-rata 1,5 gol setiap pertandingannya.
Hal yang terjadi dalam empat pertandingan ini membuat Kluivert mengubah sistem bermainnya pada dua laga FIFA Match Day yang dimainkan di Surabaya pada bulan lalu melawan Taiwan dan Lebanon.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!