CEO Global Pesimistis Pertahankan Model Bisnisnya dalam Satu Dekade
📅 Rabu, 17 Jan 2024, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: FABRICE COFFRINI/AFP
DAVOS - Survei terbaru menyebutkan hampir setengah dari Chief Executive Officer (CEO) perusahaan global menyatakan model bisnis mereka tidak akan dapat bertahan dalam satu dekade karena laju kemajuan teknologi seperti kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan tekanan iklim.
Jajak pendapat yang dilakukan perusahaan akuntansi global PricewaterhouseCoopers (PwC) terhadap 4.702 pemimpin perusahaan di seluruh dunia menemukan bahwa 45 persen mengatakan bisnis mereka bisa gagal dalam 10 tahun, kecuali mereka beradaptasi. Persentase yang pesimis itu naik dibanding survei 2023 yang tercatat 39 persen.
"Mereka sebenarnya kurang optimis dibandingkan tahun lalu mengenai prospek pendapatan mereka, dan lebih sadar akan perlunya perubahan mendasar dalam bisnis mereka," kata Ketua Global PwC, Bob Moritz, saat memaparkan survei tersebut dalam World Economic Forum, di Davos, Swiss, Senin (15/1).
Dikutip dari The Straits Times, Moritz mengatakan ketika ketakutan terhadap inflasi mereda, para pemimpin bisnis menjadi lebih fokus pada AI dan perubahan iklim.
Moritz menambahkan kalau negara-negara memerlukan infrastruktur yang lebih baik dan energi ramah lingkungan untuk memenuhi permintaan AI yang melonjak.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Semua orang beralih ke mainan baru yang cerah dan berkilau, dan kita bahkan belum memiliki daya komputasi yang cukup untuk benar-benar membuat dunia aktif dan menjalankannya," katanya melalui panggilan telepon.
"Pertumbuhan ekonomi diperlukan untuk mendorong investasi pada AI, dan permintaan energi akan terus meningkat," tambahnya.
Survei juga menemukan bahwa para pemimpin bisnis menjadi kurang peduli terhadap tantangan makroekonomi, dan lebih dari sepertiga CEO memperkirakan jumlah tenaga kerja mereka akan meningkat 5 persen pada 2024. Saat membahas bisnisnya sendiri, Moritz mengatakan PwC berusaha membuat keputusan yang lebih cerdas mengenai perjalanan perusahaan, untuk mengurangi emisi dan memangkas biaya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudisthira, yang diminta tanggapannya, mengatakan dua transisi yang tidak bisa dicegah yakni transformasi teknologi dan transisi energi yang memicu perubahan model bisnis diberbagai sektor.
Bagi pelaku usaha di Indonesia, mereka dituntut segera beradaptasi dengan transformasi digital untuk membuat bisnis menjadi lebih efisien, dan lebih memiliki daya saing.
Selain itu, mereka harus menerapkan standardisasi lingkungan seperti Environmental, Social, and Governance (ESG) sehingga perusahaan bisa lebih tahan terhadap tekanan krisis iklim dan memiliki berbagai keunggulan seperti branding yang lebih positif di mata investor maupun konsumen.
Perusahaan, kata Bhima, juga dituntut mempersiapkan pekerja atau karyawan untuk beradaptasi terhadap perubahan lingkungan dan cara kerja. "Pemerintah juga harus mempersiapkan dukungan kepada pelaku usaha yang menerapkan ESG dan masuk ke digitalisasi," tegasnya.
Sementara itu, Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Katolik Atmajaya Jakarta, YB Suhartoko, mengatakan suka tidak suka, teknologi kecerdasan buatan akan menggantikan sebagian dari pekerjaan yang dilakukan manusia. Namun demikian, tidak semua pekerjaan dapat digantikan oleh teknologi kecerdasan buatan.
Hanya pekerjaan yang bersifat mekanistis, berulang, dan secara prosedur dapat diprogramkan sangat mungkin tergantikan. Untuk pekerjaan yang membutuhkan soft skill, seperti pengambilan keputusan, strategi, investigasi, masih membutuhkan kemampuan personal masih bisa bertahan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!