BRIN: Air Hujan Jakarta Mengandung Partikel Mikroplastik Berbahaya
📅 Minggu, 19 Okt 2025, 14:40 WIB | Oleh: Ilham Sudrajat
Doc: BRIN
JAKARTA - Air hujan yang selama ini dianggap simbol kesegaran ternyata tidak sepenuhnya bersih. Penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan air hujan di Jakarta, pada umumnya, mengandung partikel mikroplastik berbahaya.
Partikel ini berasal dari aktivitas manusia di perkotaan dan menunjukkan polusi plastik telah mencapai atmosfer. Temuan tersebut menjadi peringatan pencemaran plastik kini terjadi di seluruh lapisan Bumi.
Peneliti BRIN, Muhammad Reza Cordova, menjelaskan penelitian sejak 2022 menunjukkan adanya mikroplastik di setiap sampel hujan Jakarta. Partikel plastik mikroskopis itu terbentuk dari degradasi limbah plastik yang melayang di udara akibat aktivitas manusia.
“Mikroplastik ini berasal dari serat sintetis pakaian, debu kendaraan dan ban, sisa pembakaran sampah plastik, serta degradasi plastik di ruang terbuka,” kata Reza, Kamis (17/10) lalu.
Reza menjelaskan, mikroplastik yang ditemukan umumnya berbentuk serat sintetis dan fragmen kecil plastik. Polimer yang banyak terdeteksi meliputi poliester, nilon, polietilena, polipropilena, hingga polibutadiena dari ban kendaraan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Rata-rata, ditemukan sekitar 15 partikel mikroplastik per meter persegi per hari di kawasan pesisir Jakarta. Angka itu menunjukkan tingginya tingkat pencemaran udara yang telah menyentuh lapisan atmosfer.
Menurut Reza, fenomena ini terjadi karena siklus plastik kini menjangkau udara. Mikroplastik terangkat lewat debu jalanan, asap pembakaran, dan aktivitas industri, lalu terbawa angin dan hujan.
Proses ini dikenal sebagai 'atmospheric microplastic deposition' atau pengendapan mikroplastik atmosferik. “Siklus plastik tidak berhenti di laut. Ia naik ke langit, berkeliling bersama angin, lalu turun lagi ke bumi lewat hujan,” ujar dia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Partikel mikroplastik berukuran sangat kecil, bahkan lebih halus dari debu biasa. Akibatnya, manusia bisa menghirup atau menelannya melalui air dan makanan.
Plastik juga mengandung bahan aditif beracun seperti ftalat, bisfenol A (BPA), dan logam berat. Ketika terurai, bahan ini dapat lepas ke lingkungan dan mengikat polutan lain seperti hidrokarbon aromatik dari asap kendaraan.
“Yang beracun bukan air hujannya, tetapi partikel mikroplastik di dalamnya karena mengandung bahan kimia aditif atau menyerap polutan lain,” ucap Reza.
Meski penelitian lanjutan masih dibutuhkan, studi global menunjukkan paparan mikroplastik berdampak serius bagi kesehatan. Dampaknya meliputi stres oksidatif, gangguan hormon, hingga kerusakan jaringan tubuh.
Dari sisi lingkungan, air hujan bermikroplastik bisa mencemari sumber air dan laut. Pencemaran ini akhirnya kembali ke rantai makanan manusia.
Reza menilai gaya hidup urban modern turut memperparah peningkatan mikroplastik di udara. Jakarta, dengan populasi lebih dari 10 juta jiwa dan 20 juta kendaraan, menghasilkan limbah plastik besar setiap hari.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!