Belanja Militer Global Melonjak di Tengah Ketegangan Global
📅 Selasa, 28 Apr 2026, 01:00 WIB | Oleh: Tim RedaksiSTOCKHOLM – Belanja militer global mencapai hampir 2,9 triliun dollar AS pada 2025, menandai kenaikan selama 11 tahun berturut-turut di tengah meningkatnya ketidakamanan global dan tren perlombaan persenjataan.
Dilansir dari The Straits Times pada Senin (27/4), laporan Stockholm International Peace Research Institute menyebutkan, tiga negara dengan pengeluaran terbesar yakni Amerika Serikat (AS), Tiongkok, dan Russia, menghabiskan total 1,48 triliun dollar AS atau lebih dari separuh belanja militer dunia.
Secara keseluruhan, pengeluaran militer global meningkat 2,9 persen dibandingkan tahun 2024, meskipun AS sebagai pembelanja terbesar justru mencatat penurunan. Peneliti SIPRI, Lorenzo Scarazzato, menjelaskan bahwa penurunan belanja AS tertutupi oleh peningkatan signifikan di kawasan Eropa dan Asia, di tengah kondisi global yang masih diwarnai konflik dan ketegangan geopolitik.
Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut juga tercermin dalam meningkatnya “beban militer” global, yakni porsi produk domestik bruto (PDB) dunia yang dialokasikan untuk sektor pertahanan, yang kini mencapai level tertinggi sejak 2009.
“Semua indikasi menunjukkan dunia yang terasa kurang aman dan meningkatkan anggaran militer untuk mengimbangi kondisi global,” ujar Scarazzato.
Sebaiknya Anda baca juga:
AS tercatat mengurangi pengeluaran militernya sebesar 7,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini sebagian besar disebabkan tidak adanya paket bantuan militer baru untuk Ukraina. Meski demikian, tren ini diperkirakan hanya bersifat sementara.
Kongres AS telah menyetujui anggaran pertahanan lebih dari 1 triliun dollar AS untuk 2026, dan bahkan berpotensi meningkat hingga 1,5 triliun dollar AS pada 2027 apabila proposal anggaran Presiden Donald Trump disahkan.
Kenaikan paling signifikan justru terjadi di Eropa, termasuk Rusia dan Ukraina, dengan lonjakan mencapai 14 persen menjadi 864 miliar dollar AS. Menurut Scarazzato, peningkatan ini didorong oleh dua faktor utama, yakni perang yang masih berlangsung di Ukraina serta berkurangnya keterlibatan Sdi kawasan tersebut.
Ia menilai AS kini mendorong negara-negara Eropa untuk lebih mandiri dalam memperkuat pertahanan mereka. Kondisi ini turut memicu peningkatan anggaran militer di sejumlah negara.
Jerman, sebagai pembelanja militer terbesar keempat dunia, meningkatkan anggarannya sebesar 24 persen menjadi 114 miliar dollar AS pada 2025.
Timur Tengah
Di kawasan Timur Tengah, meskipun ketegangan masih berlangsung, peningkatan belanja militer relatif terbatas, hanya sebesar 0,1 persen menjadi 218 miliar dollar AS. Sebagian besar negara di kawasan tersebut meningkatkan anggaran, namun Israel dan Iran justru mencatat penurunan.
Pengeluaran Iran turun 5,6 persen menjadi 7,4 miliar dollar AS, yang sebagian besar dipengaruhi oleh inflasi tinggi. Namun secara nominal, belanja militer negara tersebut sebenarnya tetap meningkat. Sementara itu, Israel mencatat penurunan 4,9 persen menjadi 48,3 miliar dollar AS, seiring meredanya intensitas konflik Gaza setelah gencatan senjata pada Januari 2025, meskipun angka tersebut masih 97 persen lebih tinggi dibandingkan 2022.
Di kawasan Asia dan Oseania, belanja militer mencapai 681 miliar dollar AS atau meningkat 8,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Ini merupakan kenaikan tahunan terbesar di kawasan tersebut sejak 2009.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!