Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Batik 'Segoro Amarto', Kekinian yang Tetap Lambangkan Spiritualitas dan Nilai Kehidupan Kota Yogyakarta

📅 Selasa, 27 Mei 2025, 13:35 WIB | Oleh:
Batik 'Segoro Amarto', Kekinian yang Tetap Lambangkan Spiritualitas dan Nilai Kehidupan Kota Yogyakarta Doc: antara foto
Ket. Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo saat meluncurkan motif baru batik Segoro Amarto di Pusat Desain Industri Nasional (PDIN), Yogyakarta.

YOGYAKARTA – Motif Batik “Segoro Amarto” " yang berarti "Semangat Gotong Royong Agawe Majune Ngayogyokarto" kini menjadi identitas Kota Yogyakarta dan melambangkan nilai kehidupan serta spiritualitas.

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menyebut motif baru itu menjadi simbol semangat pelestarian, sekaligus inovasi batik yang telah melekat kuat dalam identitas Kota Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia.

“Dengan kreativitas dari para seniman pembatik dan para desainer. Batik ini menjadi bagian karya untuk Kota Yogyakarta dan menjadi 'intangible' dalam bentuk desain batik yang terkini,” ujar Hasto saat peluncuran “Segoro Amarto” di Pusat Desain Industri Nasional (PDIN), Yogyakarta, Kamis lalu.

Motif baru Batik Segoro Amarto merupakan hasil transformasi dari motif batik lama yang diperkaya elemen-elemen bermakna, seperti motif Peksi Bulu 10, Cepek Papat, Canting, Ceplok Belah Papat, Truntum Lima, Pelita, Sawo Kecik, Tugu Pal Putih, hingga Buku dan Pena.

Setiap elemen melambangkan nilai-nilai kehidupan, spiritualitas, dan identitas Kota Yogyakarta sebagai pusat budaya, pendidikan, serta kreativitas.

Motif tersebut merupakan hasil karya Aruman, pemenang lomba perancang motif batik, yang kemudian disempurnakan oleh tim kurator untuk memastikan harmonisasi estetika dan filosofi batik Yogyakarta tetap terjaga.

Sebagai bentuk nyata dukungan terhadap pelaku ekonomi lokal, Pemerintah Kota Yogyakarta akan mewajibkan penggunaan Batik Segoro Amarto bagi sekitar 6.000 pegawai OPD dan pelajar dari tingkat SD hingga SMA minimal sekali dalam seminggu.

Dia berharap langkah tersebut memberi dampak ekonomi langsung bagi para perajin batik lokal.

“Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) sudah ada, cap juga sudah ada. Tinggal kita bentuk kelompok. Koperasi Merah Putih pun bisa langsung berkarya dalam bentuk koperasi yang sifatnya bukan untuk sektor jasa, tetapi produksi yang real. Ini untuk mengurangi jumlah koperasi yang hanya melayani simpan pinjam,” jelas Hasto.

Kepala Dinas Perindustrian, Koperasi, dan UKM Kota Yogyakarta Tri Karyadi Riyanto Raharjo mengatakan hampir 100 anggota perajin batik dalam Koperasi Merah Putih akan diberdayakan.

Produksi dilakukan secara desentralisasi dari rumah-rumah perajin, dengan sistem distribusi dan pemasaran terpusat melalui koperasi.

Pemenang lomba perancang motif baru batik Segoro Amarto, Aruman mengatakan desain batik Segoro Amarto dalam finishingnya dibantu oleh para kurator.

Namun, unsur yang digali dalam batik yang dibuat tidak terlepas dari simbol "Segoro Amarto" yang berarti "Semangat Gotong Royong Agawe Majune Ngayogyokarto".

Ia berharap dengan regulasi yang ada, motif baru batik Segoro Amarto dapat menghidupkan kembali penjualan produk lokal, sehingga perekonomian Kota Yogyakarta semakin meningkat.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Menkeu Sebut Rupiah Rp18.000 Masih dalam Perhitungan Pemerintah

Menkeu Sebut Rupiah Rp18.000 Masih dalam Perhitungan Pemerintah

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.