B100 Ternyata Punya Potensi Dahsyat! Ini Kata Wamentan Usai Uji Coba
📅 Jumat, 09 Mei 2025, 23:59 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA FOTO/Aprillio Akbar
JAKARTA - Biodiesel B100 memiliki potensi untuk mengurangi emisi hidrokarbon, karbon monoksida, dan partikel, serta dapat meningkatkan kualitas udara.
Biodiesel B100 juga memiliki beberapa tantangan, seperti potensi peningkatan biaya perawatan kendaraan karena sifat higroskopisnya yang tinggi, dan kebutuhan untuk mengganti filter bahan bakar lebih sering.
Waki Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono mengungkapkan potensi penggunaan biodiesel (B100) sebagai energi terbarukan, usai melakukan uji coba inovasi tersebut, di Balai Perakitan dan Pengujian Tanaman Industri dan Penyegar, Sukabumi, Jawa Barat.
"B100 tadi sudah kita coba, hasil dari minyak sawit kita convert menjadi biodiesel 100 persen. Kemudian dimasukkan ke dalam mobil, ternyata hasilnya mobilnya jalan dan baik," kata Wamentan ditemui di sela kunjungan kerja di Balai Perakitan dan Pengujian Tanaman Industri dan Penyegar, Sukabumi, Jumat (9/5).
Menurutnya, hasil uji coba B100 sangat positif, dengan minyak sawit yang dikonversi menjadi biodiesel berhasil menggerakkan kendaraan secara optimal tanpa kendala teknis berarti.
Sebaiknya Anda baca juga:
Konversi biodiesel dari mulai dari B35 hingga B100 melibatkan peningkatan proporsi biodiesel dalam campuran bahan bakar. B35 adalah campuran 35 persen biodiesel dengan 65 persen solar, sementara B100 adalah 100 persen biodiesel.
"Di sini dilakukan uji B dari B35, B itu biodiesel, kita sudah ada uji coba untuk B40, B50 sampai dengan B100," ujar Wamentan.
Sudaryono menilai hasil tersebut menunjukkan keberhasilan riset Kementerian Pertanian dalam mengembangkan biodiesel, sekaligus membuktikan bahwa aplikasi energi terbarukan dari pertanian bisa dilakukan.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Dari sisi riset dan aplikasi terhadap riset untuk diuji coba ke dalam mobil ternyata hasilnya baik. Artinya adalah ini satu hal yang menjanjikan bahwa di masa depan comparative advantage dari negara kita, yaitu agriculture ini ternyata tidak hanya pangan tapi juga bisa memenuhi kebutuhan energi kita," ujarnya lagi.
Menurutnya, Indonesia memiliki keunggulan komparatif di sektor pertanian, bukan hanya sebagai penghasil pangan, tetapi juga sebagai penyedia sumber energi alternatif berkelanjutan.
Ia menjelaskan, sawit dan tebu yang ditanam secara luas di Indonesia berpotensi besar dikonversi menjadi biodiesel dan bioetanol, memperkuat kemandirian energi nasional di masa mendatang.
Namun, tanaman pangan, menurutnya lagi, dapat dimanfaatkan untuk energi setelah kebutuhan pangan dalam negeri tercukupi, menjadikan sektor pertanian sebagai tumpuan penting untuk ketahanan energi.
Lebih lanjut, Sudaryono menyebutkan saat ini terdapat 64 balai penelitian unggulan di bawah naungan Kementerian Pertanian.
Balai tersebut mencakup bidang pembibitan, benih, pengolahan pascapanen, hingga inseminasi, yang semuanya mendukung penguatan sistem pertanian berbasis teknologi dan inovasi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!