Amblesan di Gunungkidul Fenomena Umum di Kawasan Karst
📅 Senin, 19 Jan 2026, 22:24 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Antara
Yogyakarta - Guru Besar Geologi Lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Wahyu Wilopo menyebut amblesan tanah di Kalurahan Girikarto, Kapanewon Panggang, Kabupaten Gunungkidul merupakan fenomena umum kawasan karst yang kerap muncul pada musim hujan.
"Amblesan yang terjadi di Gunungkidul itu sebenarnya masih dalam kategori sinkhole kecil dan bukan sesuatu yang mengejutkan, karena hampir setiap tahun, khususnya pada musim hujan, kejadian seperti ini sering terjadi di kawasan karst," ujar Wahyu saat dihubungi di Yogyakarta, Senin.
Wahyu menjelaskan kawasan Gunungkidul didominasi batu gamping yang mudah mengalami pelarutan sehingga membentuk rongga bawah tanah.
Kondisi tersebut, kata dia, membuat amblesan atau sinkhole lebih mudah terjadi, terutama di area dengan suplai air permukaan yang tinggi.
"Gunungkidul itu kan didominasi batu gamping yang mudah mengalami pelarutan. Amblesan sering ditemukan di daerah yang air permukaannya relatif banyak, misalnya di persawahan atau di sekitar rumah-rumah," ujar dia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia menyebut keberadaan septic tank di sekitar permukiman warga juga bisa memicu amblesan karena air limbah yang diresapkan ke tanah dapat mempercepat proses pelarutan batuan gamping.
Menurut Wahyu, amblesan di kawasan karst berpotensi merembet ke titik lain karena rongga bawah tanah bisa saling terhubung dan tidak hanya berada pada satu lapisan.
"Ada kemungkinan rongganya itu di bawah tidak hanya satu layer. Mungkin di bawahnya ada lagi, kita tidak tahu," kata dia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Seperti diketahui, amblesan tanah terjadi di dalam rumah warga di Kalurahan Girikarto, Kapanewon Panggang, Kabupaten Gunungkidul, DIY pada 7 Januari 2026.
Terkait rencana uji geolistrik yang akan dilakukan Pemerintah Daerah DIY, Wahyu menilai metode tersebut efektif untuk mengidentifikasi dimensi rongga bawah tanah, baik kedalaman maupun lebarnya.
Hasil uji geolistrik dapat memberikan gambaran awal kondisi bawah permukaan sebelum ditentukan penanganan lanjutan.
"Biasanya dari hasil uji geolistrik itu kita bisa mengestimasi lubangnya ada pada kedalaman berapa dan dimensinya seperti apa. Itu nanti akan terlihat dari anomali nilai resistivitasnya," ujar Wahyu.
Berdasarkan hasil kajian tersebut, menurut dia, dapat ditentukan apakah lokasi amblesan masih memungkinkan dilakukan rekayasa teknis atau justru perlu dilakukan pengosongan sementara.
Meski demikian, Wahyu menyarankan warga menghindari sementara lokasi amblesan hingga tersedia hasil kajian detail kondisi bawah tanah.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!