Ada Alasan Mengapa Gen Z Kerap Ngeyel dan Ogah Jadi Manager di Kantor
📅 Selasa, 05 Nov 2024, 16:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: The Conversation
Leda Stawnychko, Mount Royal University
Gen Z akan menjadi generasi populasi terbesar di Bumi sekaligus penentu perubahan di dunia kerja. Sebagai salah satu generasi paling terdidik dengan berlatar belakang multiras dan multietnis, mereka membawa pandangan baru dan harapan yang berbeda tentang dunia kerja.
Berbeda dengan para generasi pendahulunya yang gaptek digital, generasi Z dikenal sebagai generasi yang melek digital. Sebab, sejak lahir Gen Z tumbuh dengan teknologi dan media sosial. Mereka memiliki keunggulan alami dalam mengarungi dunia modern.
Namun, Gen Z bukan hanya perihal keahlian digital semata. Yang membuat mereka berbeda adalah ambisi, jiwa wirausaha, kepandaian finansial, komitmen kebersamaan, dan rasa tanggung jawab sosial yang kuat.
Bagi Gen Z, bekerja bukan cuma soal gaji—tapi juga soal berkontribusi pada tujuan yang lebih tinggi. Mereka lebih cocok bekerja di organisasi yang berfokus pada orang, menghargai kontribusi mereka, mengutamakan kesejahteraan, dan sejalan dengan misi yang mereka percaya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Gen Z juga mengubah sudut pandang kepemimpinan dengan memilih pemimpin berdasarkan keahlian daripada mengandalkan posisi resmi atau jabatan tinggi.
Salah satu tren yang mencolok adalah keengganan mereka untuk masuk ke peran manajemen menengah. Fenomena ini disebut sebagai “conscious unbossing” atau memilih figur pemimpin dengan lebih sadar dan rasional sesuai tupoksinya.
Perubahan besar ini mengejutkan banyak orang di dunia bisnis.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ketika strategi harus dieksekusi
Manajer tingkat menengah berperan penting dalam organisasi, menjadi penghubung utama antara strategi besar perusahaan dan operasional sehari-hari.
Berbeda dengan seorang supervisor atau pengawas yang lebih berfokus pada tugas sehari-hari, manajer menengah bertanggung jawab atas kinerja tim mereka dan menjalankan strategi organisasi secara keseluruhan. Ini adalah peran dinamis saat visi strategis bertemu dengan ranah praktis.
Namun, riset menunjukkan bahwa lebih dari setengah Gen Z tidak tertarik mengejar peran manajemen menengah. Ini bisa dimengerti karena peran ini terkenal dengan tingkat kelelahan bekerja yang tinggi sehingga mungkin terasa kurang cocok dengan nilai-nilai Gen Z seperti kemandirian, fleksibilitas, dan kesejahteraan pribadi.
Memang benar bahwa manajer menengah menghadapi tantangan nyata. Dalam sedekade terakhir, tanggung jawab mereka meningkat signifikan. Mereka harus mengelola prioritas yang saling bersaing sambil menghadapi lingkungan kerja yang terpolarisasi dan cepat berubah.
Namun, jangan salah, dengan pendekatan yang tepat, peran ini bisa menjadi sangat bermakna dan bisa mengubah hidup. Ini berhasil saya temukan dalam penelitian disertasi.
Mengapa peran manajemen menengah penting
Meski Gen Z dikenal ambisius, percaya diri, dan sangat berorientasi pada pengembangan diri, mereka mungkin melewatkan kesempatan belajar dan pengaruh besar yang ditawarkan oleh peran manajemen menengah.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!