Tahun 2027, Impor Beras di Kabupaten Kutai Timur Berpotensi Meningkat
Sabtu, 07 Nov 2026, 21:26 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA
SANGATTA – Ketergantungan Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur, terhadap pasokan beras dari luar daerah berpotensi meningkat pada awal 2027 dikarenakan jumlah produksi beras lokal menurun dari tahun sebelumnya.
“Kalau produksinya jauh berkurang, sementara konsumsi kan tetap, sehingga mungkin kita memerlukan pasokan beras yang lebih banyak lagi dari luar,” ucap Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kutim, Dyah Ratnaningrum, saat ditemui di Sangatta, Sabtu (07/11).
Kondisi ini menyusul mundurnya masa tanam petani akibat kemarau panjang akhir tahun 2026, yang diperkirakan berdampak terhadap penurunan produksi beras lokal di awal tahun 2027.
Dia mengatakan potensi penurunan produksi tersebut menjadi perhatian karena kebutuhan konsumsi masyarakat diperkirakan tidak mengalami perubahan signifikan.
Dengan kondisi itu, berkurangnya produksi dari dalam daerah akan berpengaruh terhadap neraca ketersediaan pangan dan meningkatkan kebutuhan pemenuhan beras dari luar Kutim.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia menjelaskan kemarau panjang menyebabkan petani menunda masa tanam yang sebelumnya dijadwalkan berlangsung pada Oktober 2026.
Pergeseran waktu tanam tersebut berpotensi membuat hasil produksi pada awal tahun depan tidak mencapai target yang diharapkan.
Dinas Ketahanan Pangan, kata dia, secara rutin menyusun neraca bahan pangan setiap bulan dengan memperhitungkan produksi lokal dan tingkat konsumsi masyarakat.
Kebutuhan beras di Kutai Timur mencapai 47.573 ton setiap tahunnya. Namun, kemampuan produksi lokal baru berada di angka 8.449 ton, sehingga terjadi defisit sekitar 39.000 ton.
“Bagaimanapun kemarau ini berpengaruh, terutama di sisi Dinas Pertanian. Kalau kami di Ketahanan Pangan hanya menghitung produksi, karena setiap bulan harus melaporkan neraca bahan pangan,” katanya.
Dinas Ketahanan Pangan Kutim terus memperkuat kerja sama strategis dengan Perum Bulog. Setiap neraca bahan pangan yang dihimpun selalu dilaporkan kepada Badan Pangan Nasional (Bapanas) untuk dipetakan daerah kekurangannya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!