Tangan Dingin Luis Enrique Sulap PSG Bagai Monster Menakutkan
Kamis, 05 Nov 2026, 18:19 WIB | Oleh: OpikDengan catatan itu, PSG menjadi tim kedelapan yang menjuarai Liga Champions dua kali berturut-turut atau lebih, setelah Real Madrid, Inter Milan, Ajax Amsterdam, Bayern Muenchen, Liverpool, Nottingham Forest, dan AC Milan.
PSG juga menjadi tim pertama yang menjuarai Liga Champions setelah memenangi final dengan selisih liga gol kala mengalahkan Inter Milan 5-0 dalam final 2025 di Muenchen, Jerman.
Musim ini mereka terlihat makin angker dengan memuncaki klasemen fase liga Liga Champions, dan menjadi salah satu dari dua tim yang selalu menang dalam empat pertandingan pertama musim ini, di samping Real Madrid.
Sejak dikalahkan AS Monaco 1-2 pada 5 September dalam pertandingan Liga Prancis, PSG selalu menang dalam 10 pertandingan terakhirnya, sambil memasukkan 36 gol tapi kebobolan 9 gol.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pencapaian sangat produktif itu termasuk kala mengalahkan Manchester City dan Barcelona dalam pertandingan Liga Champions, dengan skor sama 4-2.
Terakhir mereka menyarangkan enam gol tanpa balas ke gawang Villarreal untuk menjadi klub pertama dalam sejarah Liga Champions yang paling cepat unggul 4-0, hanya dalam waktu 17 menit.
Catatannya di Liga Champions musim ini sungguh menggetarkan lawan karena menjadi tim paling berbahaya di depan gawang lawan setelah mencetak 20 gol, atau terbanyak dalam Liga Champions musim ini.
Tapi untuk urusan pertahanan, PSG mungkin kalah tangguh dibandingkan dengan Arsenal yang baru kebobolan tiga kali, sedangkan tim asuhan Luis Enrique itu sudah kebobolan lima kali.
Karena Luis Enrique
Sejak diasuh Luis Enrique mulai Juli 2023, PSG berkembang menjadi monster yang tidak hanya menakutkan di dalam negeri, tetapi juga mengerikan di luar Prancis.
Pada masa Enrique inilah PSG bisa dua kali berturut-turut menjuarai Liga Champions. Sebelum dilatih Enrique, PSG tak pernah bisa menjuarai kompetisi elit Eropa itu.
Yang istimewa dari Enrique adalah dia berhasil mengubah PSG menjadi tim menakutkan yang justru dibangun tanpa mengandalkan pemain-pemain berpredikat bintang atau megabintang.
Enrique telah mengubah Paris Saint-Germain sebagai tim yang mengandalkan keterampilan individual para bintang, menjadi tim yang memiliki kultur yang menekankan identitas permainan yang menuntut, kolektif, dan otonom.
Dia menghindari pengaturan pemain yang terlalu detail, dengan lebih memilih untuk mendorong para pemain guna memahami dinamika permainan untuk kemudian mengambil keputusan secara mandiri.
Enrique juga tidak asal menekankan timnya untuk mengendalikan penguasaan bola, karena penguasaan bola seharusnya diartikan sebagai juga usaha menciptakan momentum untuk memenangkan pertandingan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!