Hilirisasi Kekayaan Hayati dan Bahan Baku Lokal Bakal Memperkuat Daya Saing Industri Pangan
Rabu, 04 Nov 2026, 23:03 WIB | Oleh: Vitto Budi
Doc: Budi
TANGERANG- Pemerintah mendorong hilirisasi kekayaan hayati dan bahan baku lokal untuk memperkuat struktur industri makanan dan minuman nasional. Langkah tersebut diperlukan agar Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi mampu menghasilkan produk olahan bernilai tambah tinggi dan berdaya saing di pasar global.
Menteri Perindustrian, Muhammad Sarmuji, mengatakan Indonesia memiliki potensi sumber daya alam dan keanekaragaman hayati yang besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk industri pangan. Namun, potensi tersebut perlu dioptimalkan melalui inovasi, penguasaan teknologi, dan penguatan keterkaitan industri dari hulu hingga hilir.
"Pemanfaatan bahan baku dari Indonesia harus terus dimaksimalkan agar industri terhubung dengan baik, baik dari hulu, produk antara, hingga hilir," ujar Sarmuji saat membuka pameran KRISTAInterFOOD 2026 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2, Tangerang, Rabu (4/11).
Menurut dia, sejumlah komoditas lokal memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi produk industri bernilai ekonomi lebih tinggi. Rumput laut, sagu, singkong, dan tempe, misalnya, dapat diolah melalui inovasi teknologi untuk menghasilkan produk pangan dengan keunggulan nutrisi dan kualitas yang lebih baik.
Pengembangan mi berbahan singkong dan tempe dengan kandungan protein dan serat lebih tinggi menjadi salah satu contoh inovasi pemanfaatan bahan baku domestik. Selain itu, rumput laut dapat dikembangkan menjadi produk kesehatan, sedangkan kulit dan sisik ikan berpotensi diolah menjadi kolagen untuk kebutuhan industri kesehatan dan kecantikan.
Sarmuji menilai pengembangan produk antara atau intermediate product menjadi bagian penting dalam memperkuat rantai pasok industri pangan. Melalui pendekatan tersebut, bahan baku lokal dapat memberikan nilai tambah lebih besar sekaligus membuka peluang usaha baru bagi industri kecil dan menengah.
Pemerintah juga mendorong kolaborasi antara pelaku industri, UMKM, lembaga penelitian, dan pemangku kepentingan untuk mempercepat pengembangan inovasi pangan. Salah satu upaya yang dilakukan melalui program Indonesia Food Innovation (IFI) 2026 yang berfokus pada pengembangan produk antara berbasis sumber daya lokal.
Sarmuji juga menyoroti potensi kuliner Nusantara sebagai bagian dari identitas bangsa sekaligus instrumen diplomasi budaya. Kekayaan kuliner Indonesia perlu lebih serius diperkenalkan ke pasar internasional agar mampu memperkuat citra dan penetrasi produk nasional di berbagai negara.
Dengan dukungan hilirisasi, inovasi, dan perluasan jejaring perdagangan, industri makanan dan minuman diharapkan semakin berperan dalam memperkuat struktur manufaktur nasional, meningkatkan nilai tambah sumber daya domestik, serta memperluas kesempatan kerja.
Tumbuh Positif
Sementara itu, Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi S. Lukman, mengatakan industri makanan dan minuman nasional masih menunjukkan pertumbuhan positif di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Pada semester I-2026, industri makanan dan minuman tumbuh 6,51 persen, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional. Sektor tersebut juga memberikan kontribusi sekitar 7 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional.
Menurut Adhi, kinerja tersebut menunjukkan industri makanan dan minuman memiliki ketahanan dalam menghadapi berbagai gejolak global. Pertumbuhan sektor ini juga diikuti peningkatan penyerapan tenaga kerja dan investasi.
Karena itu, penyelenggaraan KRISTAInterFOOD 2026 diharapkan dapat memperluas ekosistem industri pangan nasional, termasuk memperkuat hubungan dengan sektor hotel, restoran, katering, serta industri pendukung seperti kemasan.
Dia berharap pameran tersebut dapat berkembang menjadi ikon sekaligus ajang untuk memperkenalkan kemampuan industri pangan Indonesia kepada pasar internasional.
Perluas Pasar Global
Di sisi lain, CEO Krista Exhibitions Group, Daud D. Salim, mengatakan KRISTAInterFOOD 2026 dirancang sebagai platform strategis untuk mempertemukan inovasi dan peluang bisnis di industri makanan dan minuman.
Melalui lebih dari 40 program yang mencakup kompetisi internasional, seminar, talkshow, pelatihan, dan business matching, penyelenggara berupaya mempertemukan pelaku industri nasional dengan mitra bisnis dari berbagai negara.
Menurut Daud, kegiatan tersebut diharapkan mendorong terbentuknya kemitraan strategis, memperluas akses pasar, serta membuka peluang investasi berkelanjutan. Dengan demikian, industri makanan dan minuman Indonesia dapat meningkatkan daya saing produk di pasar global.
Memasuki penyelenggaraan ke-27, KRISTAInterFOOD 2026 menempati area sekitar 60.000 meter persegi yang tersebar di 11 hall. Pameran berlangsung pada 4–7 November 2026 dengan melibatkan sekitar 1.100 peserta dari 16 negara, termasuk 100 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!