WCCE 2026 di Jakarta Catat Rekor, Hadirkan 225.000 Pengunjung dari 82 Negara
Senin, 02 Nov 2026, 18:27 WIB | Oleh: Haryo BronoDestinasi ini mempertemukan desainer, arsitek, praktisi fesyen berkelanjutan, studio kreatif, dan merek lokal. Sejumlah organisasi yang berpartisipasi antara lain Asosiasi Desain Grafis Indonesia (ADGI) dan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI).
Beberapa desainer fesyen yang turut berkontribusi dalam pameran tersebut adalah Adrie Basuki, Poppy Dharsono, dan Wilsen Willim. Mereka tampil bersama sejumlah merek dan studio kreatif, seperti Akisa, Boemi, Bell Living Lab, Floorstudio, dan Tuksedo Studio. Melalui pameran ini, pengunjung dapat melihat bagaimana unsur budaya dan identitas lokal dikembangkan menjadi produk desain yang memiliki nilai ekonomi sekaligus berpotensi menjangkau pasar lebih luas.
Village Two: Teknologi, Hiburan, dan Inovasi Digital
Berlokasi di MGP Space, SCBD, Village Two mengeksplorasi pertemuan antara kreativitas, teknologi, hiburan, dan perkembangan model bisnis baru.
Pameran di lokasi ini mencakup subsektor gim, teknologi imersif, musik, film, serta inovasi digital. Berbagai pelaku industri kreatif dipertemukan dengan perusahaan teknologi dan platform digital yang dapat mendukung pengembangan maupun distribusi karya.
Sejumlah organisasi dan perusahaan yang berpartisipasi antara lain Apple Academy, Grab, Indosat, World Intellectual Property Organization (WIPO), UniPin, Visinema, Tencent, dan Shopee. Kehadiran berbagai perusahaan tersebut memperlihatkan semakin eratnya hubungan antara industri kreatif dan perkembangan teknologi. Teknologi tidak hanya menjadi sarana produksi, tetapi juga membuka cara baru dalam menciptakan, memasarkan, dan mendistribusikan produk kreatif.
Village Three: Musik, Komunitas, dan Kreativitas Sehari-hari
Berbeda dengan dua lokasi sebelumnya, Village Three yang berlokasi di SCBD Park menghadirkan kreativitas melalui kegiatan yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.
Melalui WCCE Weekland pada 24–25 Oktober 2026, pengunjung disuguhi bazar yang melibatkan 88 merek lokal, instalasi seni, pertunjukan musik, pengalaman kuliner, produk lokal, dan berbagai aktivitas komunitas. Kegiatan ini sekaligus bertepatan dengan perayaan Hari Ekonomi Kreatif Nasional.
WCCE Weekland memperlihatkan bahwa pertumbuhan ekonomi kreatif tidak hanya berlangsung melalui institusi besar atau kegiatan industri formal. Kreator independen, wirausaha lokal, talenta baru, dan komunitas juga memiliki peran dalam menciptakan produk, pengalaman, serta nilai ekonomi. Rangkaian kegiatan ditutup dengan doa bersama dan pertunjukan musik yang menghadirkan Marbles, SEEN, dan Moluccan Soul.
Jakarta Vision on Creative Economy Jadi Hasil Penting
WCCE 2026 juga memperkuat posisi Indonesia dalam pembahasan internasional mengenai masa depan ekonomi kreatif. Konferensi ini pertama kali diinisiasi Indonesia di Bali pada 2018, kemudian berlanjut di Dubai pada 2021, Bali pada 2022, Tashkent pada 2024, dan Jakarta pada 2026.
Salah satu hasil penting penyelenggaraan di Jakarta adalah adopsi Jakarta Vision on Creative Economy. Dokumen visi tersebut menjadi landasan bersama untuk mendorong kerja sama internasional dalam pengembangan sektor ekonomi kreatif.
Sejumlah prioritas yang tercakup di dalamnya meliputi pemanfaatan teknologi dan transformasi digital, keberlanjutan dan desain sirkular, pembangunan ekosistem kreatif yang inklusif, serta perlindungan kekayaan intelektual. Visi tersebut direncanakan untuk dibawa ke dalam pembahasan global di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada akhir 2026.
Selain menghasilkan kesepakatan arah kerja sama, WCCE 2026 juga mengumumkan Glasgow, Inggris, sebagai tuan rumah penyelenggaraan berikutnya pada 2028. Penunjukan tersebut menandai kelanjutan platform internasional yang dibangun Indonesia untuk mempertemukan berbagai negara dalam mengembangkan ekonomi kreatif.
Ekonomi Kreatif Indonesia dan Peluang Pasar Global
Penyelenggaraan WCCE 2026 memperlihatkan luasnya potensi ekonomi kreatif Indonesia yang tidak terbatas pada satu subsektor atau jenis produk.
Kreativitas Indonesia tumbuh melalui beragam ekspresi, mulai dari kriya tradisional, fesyen kontemporer, musik independen, hiburan digital, arsitektur, kuliner, gim, hingga teknologi imersif. Di sisi lain, usaha kecil dan komunitas lokal juga menjadi bagian penting dari ekosistem tersebut.
Keberagaman ini menjadi modal untuk memperluas kontribusi industri kreatif terhadap perekonomian nasional. Namun, pengembangan potensi tersebut membutuhkan dukungan ekosistem yang mampu menghubungkan kreativitas dengan teknologi, investasi, perlindungan kekayaan intelektual, serta akses pasar.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!