WCCE 2026 di Jakarta Catat Rekor, Hadirkan 225.000 Pengunjung dari 82 Negara
Senin, 02 Nov 2026, 18:27 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: WCCE 2026
JAKARTA – World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 mencatatkan rekor sebagai penyelenggaraan terbesar sepanjang sejarah konferensi ekonomi kreatif tersebut. Digelar pada 21–25 Oktober 2026, kegiatan ini berhasil menghubungkan lebih dari 225.000 partisipan dan pengunjung dari 82 negara melalui rangkaian konferensi internasional dan program Creativillage.
Mengusung tema “Inclusively Creative: Collective Continuity”, WCCE 2026 menjadikan Jakarta sebagai ruang pertemuan para pembuat kebijakan, pelaku industri, akademisi, komunitas kreatif, hingga masyarakat umum untuk membahas perkembangan dan masa depan ekonomi kreatif global.
Berbeda dengan penyelenggaraan konferensi internasional pada umumnya yang terpusat di satu lokasi, WCCE 2026 menerapkan konsep terdesentralisasi dengan menyebarkan kegiatan ke sejumlah ruang kreatif di Jakarta. Pendekatan ini memungkinkan keterlibatan lebih luas dari berbagai elemen masyarakat sekaligus mempertemukan kreativitas lokal dengan jejaring dan peluang pasar internasional.
Penyelenggaraan tersebut juga diarahkan untuk memperkenalkan keberagaman industri kreatif Indonesia kepada dunia, mulai dari desain, fesyen, kriya, musik, gim, teknologi digital, hingga kuliner dan usaha lokal.
Menghadirkan Model Baru Konferensi Ekonomi Kreatif
WCCE 2026 menawarkan pendekatan baru dalam penyelenggaraan konferensi global melalui tiga prinsip utama, yakni desentralisasi, keberlanjutan, dan keterlibatan komunitas.
Dalam model ini, konferensi utama menjadi tempat pertemuan pembuat kebijakan, delegasi internasional, pemimpin industri, akademisi, dan pemangku kepentingan ekonomi kreatif. Sementara itu, Creativillage membuka ruang bagi praktisi kreatif, merek lokal, komunitas, dan masyarakat umum melalui pameran, aktivasi merek, pengalaman interaktif, serta pertunjukan.
Penyebaran kegiatan ke sejumlah lokasi memungkinkan masyarakat berpartisipasi sesuai minat masing-masing, baik melalui diskusi kebijakan, pertemuan bisnis, pameran produk, maupun aktivitas komunitas. Lebih dari 200 pemikir dan pelaku kreatif terlibat dalam berbagai kegiatan yang tersebar di empat panggung konferensi dan Creativillage.
Model penyelenggaraan ini juga dinilai membuka peluang pemanfaatan ruang-ruang kreatif yang sudah berkembang di Jakarta. Dengan demikian, kegiatan internasional tidak hanya memberikan manfaat bagi peserta konferensi, tetapi juga berpotensi menggerakkan aktivitas ekonomi pelaku usaha dan komunitas lokal.
Kolaborasi Hexahelix Libatkan Lebih dari 200 Mitra
Salah satu pendekatan utama WCCE 2026 adalah model kolaborasi hexahelix yang mempertemukan enam unsur ekosistem ekonomi kreatif, yakni pemerintah, akademisi, pelaku bisnis, komunitas, media, dan agregator.
Lebih dari 200 kolaborator terlibat dalam penyelenggaraan ini. Sejumlah mitra yang berpartisipasi antara lain Kedutaan Besar Inggris, Kedutaan Besar Prancis, Danantara, Tencent, Pagelaran Sabang Merauke, Indosat, dan Tale X.
Kolaborasi tersebut diarahkan untuk memperkuat hubungan antara kreator, lembaga pemerintah, perusahaan, dan jaringan internasional. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi kreatif tidak hanya bergantung pada kemampuan menghasilkan karya, tetapi juga membutuhkan dukungan kebijakan, akses pembiayaan, pengetahuan, distribusi, dan pasar.
Melalui kegiatan business-to-business (B2B), pelaku industri kreatif mendapatkan kesempatan bertemu calon mitra dan menjajaki kerja sama komersial. Keterlibatan atase perdagangan juga membuka peluang bagi pelaku usaha berorientasi ekspor untuk memperluas jaringan perdagangan dan memahami akses ke pasar internasional.
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, mengatakan semangat gotong royong menjadi salah satu landasan penting dalam membangun ekosistem ekonomi kreatif Indonesia. Menurut dia, kolaborasi berbagai elemen diperlukan agar setiap pelaku kreatif dapat memberikan kontribusi sesuai kapasitasnya dan bersama-sama menciptakan dampak yang lebih besar.
“Filosofi Gotong Royong yang telah mengakar kuat dalam budaya Indonesia menjadi kekuatan penggerak WCCE. Filosofi ini mengingatkan kita bahwa setiap individu memiliki tujuan dalam hidup dan membawa cahayanya masing-masing. Ketika cahaya-cahaya ini bersatu, semuanya akan menjadi mercusuar yang menerangi jalan menuju dunia yang lebih baik,” ujar Irene melaui siaran pers pada hari Senin (2/11).
Creativillage Tampilkan Keberagaman Industri Kreatif Indonesia
Selain konferensi utama, Creativillage menjadi salah satu bagian penting WCCE 2026. Program ini menghadirkan karya dan inovasi dari berbagai subsektor ekonomi kreatif melalui tiga destinasi dengan karakteristik berbeda. Ketiga lokasi tersebut dirancang untuk memperlihatkan keterhubungan antara desain, teknologi, hiburan, musik, komunitas, dan kegiatan ekonomi berbasis kreativitas.
Village One: Desain, Kriya, dan Identitas Indonesia
Berlokasi di Ashta District 8, SCBD, Village One menampilkan kekuatan desain dalam menerjemahkan identitas, budaya, dan imajinasi menjadi karya kreatif kontemporer.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!