Rumah Singgah Yayasan Ronald McDonald Bantu Keluarga Pasien Hindari Beban Biaya Penginapan
Senin, 02 Nov 2026, 11:58 WIB | Oleh: Haryo BronoRangkaian program tersebut menunjukkan bahwa dukungan terhadap kesehatan anak tidak hanya berkaitan dengan tindakan medis. Ketersediaan tempat tinggal, ruang istirahat, dan akses layanan kesehatan dasar juga menjadi bagian dari upaya membantu anak serta keluarga menghadapi persoalan kesehatan.
Rumah Singgah Menjadi Tempat Berbagi Kekuatan
Dampak program yayasan terlihat dari pengalaman keluarga yang harus meninggalkan kampung halaman demi memperoleh perawatan medis bagi anak mereka. Salah satunya keluarga Angeline, anak berusia 10 tahun asal Rembang, Jawa Tengah, yang didiagnosis mengalami sindrom Guillain-Barré atau Guillain-Barré Syndrome (GBS) pada Februari 2026.
Penyakit tersebut merupakan gangguan autoimun yang menyerang sistem saraf tepi. Pada kondisi berat, penderita dapat mengalami kelemahan otot yang berkembang cepat hingga mengganggu kemampuan bernapas. Angeline sempat menjalani perawatan intensif di ruang ICU dan membutuhkan bantuan ventilator sebelum dirujuk ke RSAB Harapan Kita, Jakarta.
Sebaiknya Anda baca juga:
Perawatan di luar daerah membuat keluarga harus menghadapi persoalan jarak dan kebutuhan biaya hidup. Ayah Angeline yang saat itu bekerja sebagai nelayan di Afrika bahkan menempuh perjalanan laut selama 14 hari untuk kembali ke Indonesia. Keputusannya didasari keinginan untuk hadir secara langsung mendampingi anak dan istrinya.
“Anak dan istri saya lebih membutuhkan kehadiran saya, bukan hanya uang,” demikian prinsip yang dipegang ayah Angeline ketika memutuskan pulang.
Di tengah proses pengobatan yang menguras tenaga dan pikiran, keluarga Angeline kemudian mendapatkan tempat tinggal melalui Rumah Singgah Yayasan Ronald McDonald House Indonesia. Kehadiran fasilitas tersebut membantu mereka mengurangi beban kebutuhan akomodasi sekaligus memperoleh lingkungan yang memberikan dukungan emosional.
Ibunda Angeline, Ayu, mengatakan pengalaman tinggal di rumah singgah memberikan kenyamanan yang sebelumnya sulit mereka bayangkan.
“Di luar ekspektasi kami, semua stafnya sangat peduli, sampai petugas kebersihan juga sudah seperti keluarga sendiri. Tidak ada uang pun tidak apa-apa, yang penting anak bisa sehat. Kebersamaan keluarga sangatlah berharga,” tuturnya.
Bagi Angeline, rumah singgah juga memberikan rasa aman selama menjalani pengobatan jauh dari kampung halaman. Ia merasa tidak sendirian karena bertemu dengan keluarga lain yang menghadapi situasi serupa.
“Kalau di kampung merasa sendiri, tapi di rumah singgah merasa banyak yang menemani dan tenang. Rasanya lebih aman dan terjaga,” ujar Angeline.
Pengalaman serupa dialami keluarga Keenan, anak berusia empat tahun asal Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat, yang didiagnosis mengalami tumor otak. Demi mendampingi proses pengobatan di Denpasar, Bali, orang tua Keenan harus meninggalkan pekerjaan mereka.
Sebelum tinggal di rumah singgah, keluarga tersebut menyewa kamar kos dan menghadapi tekanan emosional selama menjalani perawatan. Situasi berubah ketika mereka memperoleh tempat tinggal melalui program yayasan.
Ibunda Keenan, Dini, mengatakan rumah singgah bukan hanya membantu mengurangi beban finansial, tetapi juga mempertemukannya dengan keluarga lain yang mengalami perjuangan serupa.
“Di sini, saya menemukan keluarga baru. Kami semua pejuang sembuh yang saling mendukung. Saat sebelumnya tinggal di kos, saya dan suami hanya bisa menangis berdua. Di rumah singgah, kami saling merangkul. Energi positif di sini menjadi kekuatan besar bagi keluarga kami,” katanya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!