Setelah Kontraksi 2020, Manufaktur Kembali Jadi Mesin Utama: Ini 3 Jurusnya
Selasa, 27 Okt 2026, 10:55 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: istimewa
JAKARTA - Industri manufaktur kembali mengukuhkan diri sebagai penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sektor ini tumbuh 5,32 persen, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional 5,29 persen.
Dengan kontribusi hampir seperlima terhadap perekonomian nasional - terbesar di antara semua sektor - manufaktur melanjutkan tren pemulihan sejak kontraksi akibat pandemi Covid-19 pada 2020. Kinerja ini sejalan dengan lonjakan investasi 169 persen dalam kurun 2020-2025, porsi ekspor yang mencapai 80 persen dari total ekspor nasional pada 2025, dan penyerapan 20,26 juta tenaga kerja.
Fondasi pemulihan dibangun saat pandemi menekan aktivitas ekonomi. Tiga kebijakan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita (AGK) dinilai menyelamatkan manufaktur Indonesia sehingga pulih paling cepat di ASEAN: IOMKI, PPnBM DTP, dan penguatan TKDN.
Saat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diberlakukan pada 2020, AGK menerbitkan terobosan Izin Operasional dan Mobilitas Kegiatan Industri (IOMKI). Melalui instrumen ini, pabrik tetap beroperasi dengan kewajiban protokol kesehatan ketat.
Hingga pertengahan Juni 2020, sebanyak 17.466 IOMKI diterbitkan. Kemenperin mencatat kebijakan ini melindungi sekitar 4,9 juta pekerja dari risiko PHK. Pengawasan dilakukan dengan pencabutan izin bagi pelanggar protokol.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Indonesia adalah salah satu negara pertama yang membuat instrumen kebijakan untuk menjaga keberlangsungan industri manufaktur dari dampak pandemi," ujar AGK. "Menjaga pabrik tetap berjalan berarti menjaga penghidupan masyarakat banyak, menghidupkan rantai pasok, dan membuka jalan bagi pemulihan ekonomi."
Untuk memulihkan permintaan, Kemenperin bersama Kementerian Keuangan menghadirkan insentif Pajak Penjualan atas Barang Mewah Ditanggung Pemerintah (PPnBM DTP) untuk sektor otomotif. Sektor ini dipilih karena efek pengganda yang besar dan keterkaitan luas dengan industri baja, karet, kaca, plastik, hingga elektronik. Dengan sekitar 1,5 juta tenaga kerja di sepanjang rantai nilai, pemulihan otomotif diharapkan menggerakkan ribuan industri pemasok.
Hasilnya, sebulan setelah insentif diberlakukan, penjualan mobil nasional melonjak 88 persen. Sepanjang Maret-November 2021, penjualan mencapai 487 ribu unit, tumbuh 71,02 persen year-on-year.
Kebijakan menjaga produksi dan mendorong permintaan itu menopang pemulihan. Pada triwulan II 2021, manufaktur tumbuh 6,91 persen dan menjadi sumber pertumbuhan terbesar bagi ekonomi nasional yang tumbuh 7,07 persen. Capaian ini menandai berakhirnya empat triwulan kontraksi beruntun dan keluarnya Indonesia dari resesi.
Kepala BPS saat itu, Margo Yuwono, mengaitkan lonjakan penjualan mobil dengan relaksasi PPnBM dan menyebut "alat angkutan tumbuhnya cukup tinggi."
Selain itu, AGK mengonsolidasikan industri dalam negeri untuk kebutuhan pandemi - ventilator, APD, obat-obatan, oksigen, hingga masker - sehingga kebutuhan penanganan Covid-19 dapat dipenuhi secara mandiri, utilisasi industri naik, dan penyerapan tenaga kerja kembali meningkat.
Penyerapan Tenaga Kerja
Tenaga kerja manufaktur terus meningkat: 17,44 juta orang pada 2020, 18,65 juta pada 2021, 19,11 juta pada 2022, 19,29 juta pada 2023, 19,96 juta pada 2024, dan 20,26 juta pada 2025. Penambahan 2,82 juta pekerja dalam lima tahun menegaskan peran manufaktur sebagai penyedia lapangan kerja.
Pada Februari 2026, sektor ini menyerap 13,57 persen dari total 147,67 juta penduduk bekerja. Survei PMI September 2026 mencatat penambahan tenaga kerja pabrik berlangsung dengan laju tercepat sejak Februari 2025.
"Peningkatan jumlah tenaga kerja di sektor manufaktur disebabkan oleh utilisasi dan investasi yang terus meningkat," ujar AGK.
Investasi dan Posisi Manufaktur Indonesia
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!