Setelah Kontraksi 2020, Manufaktur Kembali Jadi Mesin Utama: Ini 3 Jurusnya
Selasa, 27 Okt 2026, 10:55 WIB | Oleh: Tim RedaksiInvestasi manufaktur meningkat konsisten: Rp259 triliun pada 2020, Rp307 triliun pada 2021, Rp457 triliun pada 2022, Rp565 triliun pada 2023, dan Rp697 triliun pada 2024. Secara agregat, realisasi investasi baru periode 2024-2026 mencapai Rp1.002 triliun, didukung hampir 3.500 fasilitas produksi baru.
"Tren ini menunjukkan kebijakan yang diambil selama 7 tahun kepemimpinan Agus Gumiwang di Kemenperin (2020-2026) efektif dalam menarik investasi," tulis naskah tersebut.
Di tingkat global, nilai tambah manufaktur (MVA) Indonesia naik dari US$210,4 miliar pada 2020 menjadi US$265,07 miliar pada 2025. Data Bank Dunia itu menempatkan Indonesia di peringkat ke-13 dunia dan teratas di ASEAN, melampaui Thailand US$128,04 miliar dan Vietnam US$116,38 miliar. Nilai tambah Indonesia bahkan lebih besar dari gabungan Thailand dan Vietnam.
Kontribusi Terhadap Ekonomi Nasional
Sebaiknya Anda baca juga:
Pada 2025, manufaktur tumbuh 5,15 persen, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional 5,11 persen. Ini kali pertama dalam 13 tahun manufaktur tumbuh lebih tinggi dari ekonomi nasional.
"Bukan ekonomi yang menarik manufaktur, tapi manufaktur yang harus menarik ekonomi," ujar AGK dalam paparan kinerja akhir 2025.
Nilai nominal PDB manufaktur terus naik: Rp2.761 triliun (2020), Rp2.947 triliun (2021), Rp3.228 triliun (2022), Rp3.499 triliun (2023), Rp3.799 triliun (2024), dan Rp4.117 triliun (2025). Tambahan tahunan cenderung membesar, dengan kenaikan tertinggi Rp318 triliun pada 2025. Secara kumulatif, sektor ini menambah lebih dari Rp1.350 triliun nilai ekonomi nominal dalam lima tahun.
Sumbangan manufaktur terhadap pertumbuhan ekonomi nasional pada 2021-2025 konsisten di kisaran 18-20 persen, dengan puncak 20,94 persen pada 2025. Artinya, sekitar seperlima pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 bersumber dari manufaktur.
Manufaktur juga menjadi tulang punggung ekspor dengan kontribusi 80,27 persen dari total ekspor nasional pada 2025. Rata-rata 2020-2025 mencapai 76 persen. Tiga penyumbang terbesar adalah produk turunan CPO, besi dan baja, serta mesin dan perlengkapan elektrik.
Mengukur Optimisme Berbasis Data
Kepercayaan pelaku industri menjadi indikator penting. Sebelum Indeks Kepercayaan Industri (IKI) hadir pada November 2022, acuan yang dipakai adalah Purchasing Managers' Index (PMI) S&P Global. Kemenperin menilai perlu instrumen yang lebih rinci per subsektor.
Atas prakarsa AGK, IKI dikembangkan untuk memantau 23 subsektor manufaktur. IKI disusun dari laporan sekitar 3.000 perusahaan melalui Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas), mencakup skala kecil, menengah, hingga besar. Metodologi dirumuskan pakar statistik IPB dan divalidasi ekonom UI. Dirilis setiap akhir bulan - lebih awal dari PMI - IKI membantu mendeteksi tekanan sejak dini pada pesanan, produksi, dan persediaan.
Sejak November 2022, IKI konsisten di zona ekspansi (di atas 50) dan mencapai rekor 54,12 pada Januari 2026. Pada September 2026, indeks tetap ekspansif di 51,93 dengan komponen pesanan 53,40 dan 15 dari 23 subsektor dalam fase ekspansi.
Sinyal penguatan juga terlihat pada PMI manufaktur Indonesia yang naik dari 49,8 pada Agustus menjadi 52,4 pada September 2026, kembali ke zona ekspansi. Pesanan baru dan produksi domestik tumbuh tercepat sejak Februari, sementara pesanan ekspor tumbuh paling kuat sejak Mei 2022.
Direktur Ekonomi S&P Global Market Intelligence Trevor Balchin menyebut kinerja September "didukung oleh kenaikan ekspor" dan terkuat sejak Februari.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!