Tim Eksekusi Mati Christa Pike Telah Memperingatkan Pembuluh Darahnya Mungkin Sudah Pecah sebelum Diberi Suntikan Mati
📅 Jumat, 23 Okt 2026, 04:45 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo S“Aku merasa lenganku akan patah. Terasa terbakar.”
Catatan kronologis tersebut kini menjadi bagian dari bukti dalam permohonan hukum baru yang diajukan atas nama Tony Carruthers dan sejumlah narapidana hukuman mati lainnya di Tennessee.
Carruthers sendiri mengalami kegagalan eksekusi pada 21 Mei lalu. Ia juga selamat setelah tim eksekusi kesulitan menemukan pembuluh darahnya selama lebih dari 30 menit.
Pengacaranya meminta izin kepada pengadilan chancery wilayah Davidson untuk mengajukan pengaduan tambahan yang menentang protokol suntik mati di Tennessee.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sebelumnya, pada Maret 2025, mereka telah mengajukan pengaduan yang memperingatkan risiko kematian menyakitkan akibat keracunan pentobarbital. Mereka menilai tim yang bertugas memberikan obat mematikan tersebut “tidak kompeten, kurang terlatih, kurang berdedikasi dalam menjalankan tugas mereka, dan/atau kurang teliti”.
Para pengacara berpendapat, kondisi itu menimbulkan risiko yang tidak dapat diterima dan berpotensi melanggar perlindungan konstitusional Amerika Serikat terhadap hukuman yang kejam dan tidak biasa.
Dalam permohonan terbaru, mereka menegaskan bahwa kegagalan eksekusi Carruthers pada Mei dan Pike pada September membuktikan bahwa kekhawatiran yang sebelumnya mereka sampaikan bukan sekadar dugaan.
“Kegagalan spesifik yang dialami oleh Tuan Carruthers dan Nyonya Pike telah diprediksi, secara rinci dan panjang lebar,” demikian bunyi permohonan tersebut.
Kit Thomas, pengacara yang mewakili para narapidana hukuman mati sebagai penggugat, menilai otoritas Tennessee justru mengabaikan peringatan yang telah disampaikan sejak tahun lalu.
“Alih-alih mengatasi masalah dalam Protokol 2025 ketika kami mengidentifikasinya tahun lalu, Departemen Pemasyarakatan Tennessee dan Kantor Kejaksaan Agung malah semakin merahasiakan dan menolak untuk melakukan perubahan,” kata Thomas.
Ia menegaskan, akibatnya sesuai dengan apa yang telah diperingatkan oleh tim hukum mereka.
“Hasilnya persis seperti yang kami prediksi: penderitaan dan kesengsaraan yang luar biasa bagi klien kami, dalam upaya eksekusi yang gagal yang juga menimbulkan kerugian jangka panjang bagi keluarga korban, staf pemasyarakatan, dan saksi media, di antara yang lainnya.”
Christa Pike dijatuhi hukuman mati atas pembunuhan temannya, Colleen Slemmer, pada 1995. Saat pembunuhan itu terjadi, Pike masih berusia 18 tahun. Ia kemudian menghabiskan hampir tiga dekade berikutnya dalam isolasi di penjara sebelum upaya eksekusinya berakhir dengan kegagalan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!