IHSG Hari Ini Kembali Menguat, Kebijakan Saham HSC Picu Reli
📅 Jumat, 23 Okt 2026, 18:25 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencerminkan respons positif pelaku pasar terhadap kebijakan saham HSC yang dinilai mampu memperbaiki sentimen investasi.
Namun, keberlanjutan penguatan indeks tetap bergantung pada efektivitas kebijakan tersebut dalam meningkatkan kepercayaan investor dan menjaga likuiditas pasar.
Jika dampaknya hanya bersifat jangka pendek, IHSG masih rentan berfluktuasi di tengah ketidakpastian pasar keuangan domestik maupun global.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat (23/10) sore ditutup menguat 51,36 poin atau 0,95 persen ke posisi 5.439,26 didukung oleh respons pelaku pasar atas kebijakan regulator untuk mengecualikan saham-saham High Shareholding Concentration (HSC) dari indeks.
Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 2,48 poin atau 0,46 persen ke posisi 547,05.
“IHSG menguat tampaknya didukung dari reformasi Bursa yang akan mengecualikan saham yang diklasifikasikan memiliki High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan indeks komposit mulai 2 November tahun ini,” ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus alias Nico dalam kajiannya di Jakarta.
Dari dalam negeri, Nico mengatakan kebijakan saham HSC tersebut menyusul peringatan MSCI bahwa ekuitas Indonesia berisiko diturunkan peringkatnya dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
BEI mencatat saat ini terdapat 80 saham kategori HSC, yang mana sejumlah saham HSC juga mendapatkan sanksi denda akibat melakukan pelanggaran hukum pasar modal.
OJK telah mengenakan denda utama total senilai Rp2,1 triliun, dengan rincian sebesar Rp1,5 triliun dalam kasus DSSA, Rp500 miliar dalam kasus BREN, dan Rp100 miliar dalam kasus CUAN.
Selain kebijakan HSC, BEI juga mengumumkan inisiatif yaitu penambahan keterangan afiliasi saham dengan kepemilikan 1 persen.
Sebelumnya, BEI telah menyesuaikan batas Auto Rejection Bawah (ARB) saham menjadi asimetris dari sebelumnya sebesar 15 persen menjadi 7 persen mulai 19 Oktober hingga 31 Desember 2026.
Sementara itu, Nico memproyeksikan langkah investasi Danantara Indonesia ke pasar saham akan menjadi pendorong kuat bagi pergerakan saham-saham BUMN.
Ia menyebut apabila aksi beli tersebut berjalan konsisten dan diiringi dengan peningkatan performa perusahaan maka dampaknya terhadap sentimen pasar akan semakin solid.
“Intervensi Danantara ini dipandang positif oleh investor karena menjadi bukti nyata adanya dukungan terhadap emiten pelat merah yang saat ini memiliki valuasi murah serta prospek bisnis jangka panjang yang menjanjikan,” ujar Nico.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!