Opini: Menimbang Biaya Prabowonomics dalam Dua Tahun Kepemimpinan Prabowo
📅 Rabu, 21 Okt 2026, 11:51 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo SGoldman Sachs memperkirakan Indonesia berpotensi kehilangan investasi sebesar 5,6 miliar dolar AS apabila MSCI menurunkan status Indonesia menjadi pasar mandiri.
Dampaknya tidak hanya dirasakan investor domestik, tetapi juga berbagai sektor industri. Penawaran umum perdana saham atau IPO berpotensi dibatalkan, biaya produksi dapat meningkat akibat pelemahan rupiah, dan suku bunga berisiko naik.
Pengumuman MSCI juga diduga berkaitan dengan laporan bahwa Danantara, lembaga investasi yang didukung negara, berencana membeli saham Bursa Efek Indonesia (BEI).
Rencana tersebut memunculkan pertanyaan mengenai independensi bursa pada masa mendatang. Keterlibatan negara melalui Danantara, yang menjadi salah satu instrumen utama kapitalisme negara di bawah pemerintahan Prabowo, dikhawatirkan dapat memengaruhi operasional dan pengambilan keputusan bursa.
Berapa lama Indonesia mampu menanggung dampaknya?
Setelah dua tahun Prabowo menjabat sebagai presiden, biaya ekonomi dari kebijakan pemerintahannya semakin menjadi perhatian.
Survei CELIOS melaporkan bahwa 92 persen kalangan ahli merasa bingung terhadap arah kebijakan pemerintah.
Situasi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai seberapa lama Indonesia mampu mempertahankan jalur kebijakan saat ini tanpa menghadapi tekanan ekonomi yang lebih besar.
Mampukah masyarakat terus menanggung beban tersebut hingga pemilihan presiden 2029?
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!