Opini: Menimbang Biaya Prabowonomics dalam Dua Tahun Kepemimpinan Prabowo
📅 Rabu, 21 Okt 2026, 11:51 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo S
Doc: Istimewa
MELBOURNE - Presiden Prabowo Subianto menandai dua tahun masa pemerintahannya pada 20 Oktober 2026 di tengah meningkatnya ketidakpuasan masyarakat. Kritik tidak hanya tertuju pada penanganan kebakaran hutan di Kalimantan dan Sumatra, yang menyebabkan jutaan orang di Indonesia dan negara-negara sekitarnya terdampak kabut asap, tetapi juga pada kondisi perekonomian nasional dan arah kebijakan pemerintah.
Survei terbaru Center for Economic and Law Studies (CELIOS) menemukan bahwa 75 persen masyarakat Indonesia merasa tertekan oleh kebijakan pemerintah. Sebagian besar tekanan tersebut berkaitan dengan persoalan ekonomi, yang disebut oleh 53 persen responden.
Tanda-tanda peringatan semakin sulit diabaikan. Nilai tukar rupiah menembus 18.000 rupiah per dolar AS, mencapai titik terendah dalam sejarah. Sementara itu, pasar saham Indonesia mengalami penurunan paling tajam sejak Krisis Keuangan Asia 1997.
Kondisi tersebut terjadi ketika perekonomian Indonesia masih mencatat pertumbuhan lebih dari 5 persen.
Lantas, apa yang sebenarnya salah?
Ambisi Prabowo untuk mencapai pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) sebesar 8 persen dinilai terlalu tidak realistis dan berisiko.
Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira Adhinegara, dalam kolom oponi di web resmi CELIOS mencatat, target pertumbuhan yang semula menjadi tolok ukur kinerja ekonomi kini berisiko berubah menjadi slogan politik yang semakin jauh dari pengalaman sehari-hari masyarakat.
Data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) juga dipertanyakan karena dinilai berpotensi tidak lagi mencerminkan kondisi ekonomi yang sesungguhnya.
Sebagai contoh, pada kuartal II 2025, sektor manufaktur dilaporkan tumbuh 5,68 persen. Namun, indeks manajer pembelian atau Purchasing Managers’ Index (PMI) justru mengalami kontraksi. Pada periode tersebut, tercatat sekitar 150.000 pekerja mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK).
Perbedaan antara data pertumbuhan dan kondisi di lapangan itu diduga berkaitan dengan pencatatan peralatan pertahanan impor sebagai bagian dari output manufaktur. Pemerintah juga dituding menghitung data kawasan industri secara ganda sehingga angka investasi terlihat lebih besar.
Di tengah perdebatan mengenai data ekonomi tersebut, rumah tangga Indonesia justru menghadapi peningkatan biaya hidup.
Dalam survei mengenai dua tahun pemerintahan Prabowo, CELIOS meminta responden menyebutkan tiga persoalan utama yang paling mereka khawatirkan.
Sebanyak 78 persen responden menyebut tingginya harga kebutuhan pokok sebagai persoalan paling mendesak. Berikutnya, 58 persen menyoroti lapangan kerja dan perlindungan pekerja, sedangkan 35 persen menilai penegakan hukum dan reformasi birokrasi sebagai masalah penting.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu program unggulan Prabowo juga disebut berkontribusi terhadap kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!