MSCI akan Hapus Indonesia dari Indeks Globalnya dan Pasar Sudah Memprediksi
📅 Rabu, 21 Okt 2026, 11:37 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo SKekhawatiran juga berkaitan dengan meningkatnya peran pemerintah dalam perekonomian dan pertanyaan mengenai independensi bank sentral.
Lembaga pemeringkat Moody's dan Fitch telah mengubah prospek peringkat utang pemerintah Indonesia menjadi negatif. Di sisi lain, perang Iran meningkatkan biaya energi bagi Indonesia sebagai negara pengimpor minyak bersih.
Meski demikian, FTSE Russell pada awal Oktober menegaskan kembali status Indonesia sebagai pasar negara berkembang dengan mempertimbangkan reformasi yang sedang berjalan. Keputusan tersebut menunjukkan bahwa dua penyedia indeks global utama itu belum mengambil langkah yang sama terhadap Indonesia.
Keputusan Bank Indonesia menjadi perhatian
Sebaiknya Anda baca juga:
Pasar kini menantikan keputusan suku bunga Bank Indonesia pada pekan ini. Bank sentral secara luas diperkirakan mempertahankan suku bunga, meskipun sebagian analis melihat kemungkinan kenaikan untuk membantu menjaga stabilitas pasar obligasi dan rupiah.
DBS memperingatkan bahwa koreksi pasar yang lebih dalam dapat mendorong imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 10 tahun menuju 7,5 persen. Dalam kondisi ekstrem, Bank Indonesia dapat menghadapi tekanan untuk menaikkan suku bunga sebesar 50 hingga 100 basis poin.
Langkah FTSE Russell juga menjadi perhatian karena keputusan serupa dengan MSCI dapat menambah potensi arus keluar sekitar 2,7 miliar dolar AS.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sementara itu, analis obligasi pemerintah S&P, Rain Lin, memperkirakan arus keluar modal masih dapat berlanjut, meskipun belum tentu cukup besar untuk meningkatkan biaya pembiayaan secara material.
Menurut Lin, risiko yang lebih penting adalah dampaknya terhadap kepercayaan investor dan kemungkinan pelemahan kepercayaan tersebut meluas ke pasar obligasi pemerintah serta investasi asing langsung.
Perkembangan nilai tukar rupiah dan langkah penegakan hukum di pasar modal akan menjadi indikator penting untuk menilai apakah tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia mulai mereda.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!