MSCI akan Hapus Indonesia dari Indeks Globalnya dan Pasar Sudah Memprediksi
📅 Rabu, 21 Okt 2026, 11:37 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo SDampak terbesar dari perubahan klasifikasi MSCI diperkirakan akan dirasakan dana investasi pasif yang mengikuti indeks tersebut. Pengelola dana jenis ini menyesuaikan portofolionya berdasarkan komposisi indeks, sehingga perubahan klasifikasi dapat memaksa mereka menjual saham Indonesia tanpa bergantung pada penilaian terhadap kondisi fundamental perusahaan.
Goldman Sachs memperkirakan penghapusan penuh Indonesia dari indeks MSCI dapat memicu arus keluar dana pasif sekitar 5,6 miliar dolar AS. Jumlah itu berpotensi bertambah 2,7 miliar dolar AS jika FTSE Russell mengambil langkah serupa.
Selain itu, terdapat lebih dari 8 miliar dolar AS dana yang dikelola secara aktif dengan acuan indeks dan berpotensi keluar berdasarkan keputusan masing-masing manajer investasi.
Citigroup menilai status standalone jelas lebih buruk dibandingkan penurunan klasifikasi menjadi pasar perbatasan. Bank tersebut memperkirakan potensi arus keluar dalam kisaran miliaran dolar AS, sementara Mirae Asset memperkirakan jumlahnya sekitar 3 miliar dolar AS.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sebagai perbandingan, Goldman Sachs memperkirakan penurunan klasifikasi menjadi pasar perbatasan saja dapat memicu arus keluar hingga 13 miliar dolar AS dalam skenario ekstrem.
Arus keluar tersebut berpotensi menambah tekanan terhadap rupiah, meningkatkan biaya pinjaman, serta menghambat pembiayaan perbankan, pembangunan infrastruktur, dan pertumbuhan ekonomi.
Persoalan transparansi dan saham beredar
Sebaiknya Anda baca juga:
Akar persoalan yang disoroti MSCI berkaitan dengan struktur pasar saham Indonesia. Banyak perusahaan tercatat memiliki porsi saham beredar publik atau free float yang relatif kecil karena kepemilikan terkonsentrasi pada pendiri, keluarga, dan kelompok usaha tertentu.
Kondisi tersebut dapat mengurangi likuiditas perdagangan, memperbesar fluktuasi harga, dan meningkatkan risiko manipulasi pasar.
Bursa Efek Indonesia telah mengambil sejumlah langkah perbaikan tahun ini. Salah satunya dengan menaikkan ketentuan minimum free float menjadi 15 persen dari sebelumnya 7,5 persen, memperluas kewajiban pengungkapan pemegang saham besar, serta memperketat pengawasan terhadap perdagangan saham yang terkonsentrasi.
Namun, MSCI menilai langkah tersebut belum cukup untuk menjawab persoalan yang ada.
Penyedia indeks itu menyatakan masih terdapat kekhawatiran signifikan mengenai disfungsi pasar, termasuk dugaan aktivitas perdagangan terkoordinasi yang berkelanjutan serta minimnya bukti penegakan hukum yang dinilai memadai.
Regulator menjatuhkan denda 2 triliun rupiah
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!