Karhutla Picu Kekhawatiran ISPA, Menhut Tegaskan Pemerintah Terus Bertindak.
📅 Minggu, 18 Okt 2026, 04:49 WIB | Oleh: Yebdi TrismarMenteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menegaskan pemerintah tidak lepas tangan dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), meskipun upaya pemadaman menghadapi tantangan berat akibat kemarau panjang, keterbatasan sumber air hingga kondisi gambut yang mudah menyimpan bara.
“Pemerintah tidak cuci tangan, tidak lepas tangan, bahkan sebenarnya hadir semaksimal mungkin untuk memastikan bahwa api padam dan kemudian juga asap tidak membuat lebih banyak lagi masyarakat kita yang kena ISPA,” kata Raja Juli Antoni di Sampit, Sabtu malam.
Hal ini ia sampaikan usai melakukan peninjauan ke lokasi karhutla di Jalan Ir Soekarno atau Jalan Lingkar Utara Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Kegiatan itu dilakukan setelah Menhut menyelesaikan agenda di Kabupaten Kotawaringin Barat.
Dalam peninjauan itu Menhut didampingi langsung oleh Bupati Kotim, Kapolres Kotim, Dandim 1015/Sampit, perwakilan Korem 102/Pjg, Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Satgas Penanggulangan Karhutla Kotim serta para relawan.
Raja Juli mengakui tantangan penanganan karhutla masih besar karena hujan alami diperkirakan belum merata di Kalimantan Tengah hingga November.
Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sejumlah wilayah bahkan diperkirakan baru menerima hujan pada dasarian ketiga November.
“Bahkan, ada yang sampai akhir November, seperti di daerah Tanjung Puting itu malah dasarian ketiga November baru akan ada hujan alami,” sebutnya.
Ia menyebutkan dalam upaya penanggulangan karhutla ini pemerintah telah mengoptimalkan tiga upaya melalui jalur udara, yakni operasi modifikasi cuaca (OMC), pengembangan teknologi pembentukan awan menggunakan dry ice, serta pemadaman menggunakan helikopter water bombing.
Operasi modifikasi cuaca dilaksanakan oleh BMKG dengan dukungan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Kementerian Kehutanan, termasuk dukungan pendanaan dari kedua instansi tersebut.
“Kita melakukan operasi modifikasi cuaca. Jadi, kalau dua hari belakangan ada terjadi hujan, itu bukan hujan alami, tetapi operasi modifikasi cuaca,” ujarnya.
Namun, pelaksanaan OMC masih bergantung pada ketersediaan bibit awan. Kondisi El Nino yang menyebabkan minimnya awan hujan menjadi kendala tersendiri, terutama di wilayah Kalimantan Tengah bagian selatan.
Pemerintah juga terus mengembangkan teknologi dry ice sebagai salah satu upaya mendukung modifikasi cuaca. Penelitian yang dilakukan BMKG bersama Thailand masih dalam tahap pengembangan dan pengujian.
Sementara itu, operasi water bombing menghadapi kendala jarak pandang yang terbatas akibat kabut asap. Raja Juli menyebutkan terdapat enam helikopter milik BNPB dan satu helikopter Kementerian Kehutanan di Kalimantan Tengah, di luar armada milik perusahaan swasta.
“Tetapi, karena jarak pandang yang terbatas, sehingga water bombing tersebut tidak bisa beroperasi. Kita tidak mau memaksakan karena apabila dipaksakan malah terjadi korban. Kita tidak akan mempertaruhkan nyawa saudara-saudara kita,” ungkapnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!