Ekonom Dorong Rantai Pasok Pangan Berbasis Komunitas, Petani dan Konsumen Bisa Sama-Sama Untung
📅 Jumat, 16 Okt 2026, 21:55 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Peneliti Center of Economic and Law Studies (Celios) Galau D Muhammad menilai penguatan rantai pasok pangan berbasis komunitas dapat menjaga ketersediaan dan keterjangkauan harga pangan sekaligus memperluas akses pasar bagi petani, peternak dan pelaku usaha lokal.
Ia mengatakan peningkatan permintaan pangan dalam skala besar perlu diimbangi pengembangan jaringan pemasok yang melibatkan produsen setempat agar manfaat ekonomi tersebar lebih luas tanpa mengganggu pasokan bagi rumah tangga.
"Ada banyak pedagang UMKM, peternak yang seharusnya diintegrasikan secara proporsional dalam skala yang mikro," kata Galau saat dihubungi di Jakarta, Jumat (16/10).
Menurut dia, penguatan rantai pasok dapat dilakukan melalui model pengadaan yang lebih terdesentralisasi, dengan melibatkan komunitas, pedagang, serta petani dan peternak di sekitar wilayah yang membutuhkan pasokan.
Pendekatan tersebut dinilai penting agar pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dapat berpartisipasi sesuai kapasitas produksinya, sekaligus memperkuat hubungan antara produsen pangan dan pasar setempat.
Sebaiknya Anda baca juga:
Galau mencontohkan kebutuhan bahan pangan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang meningkat seiring bertambahnya jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Menurut dia, skala pengadaan menjadi tantangan bagi produsen kecil apabila mereka harus memenuhi kebutuhan dalam jumlah besar secara mandiri.
"UMKM, peternak kecil mana yang bisa menyuplai untuk 1.000 sampai dengan 1.500 porsi per SPPG?," ujarnya.
Karena itu, ia menilai keterlibatan pelaku usaha lokal perlu dirancang secara proporsional agar peningkatan permintaan pangan dapat membuka peluang ekonomi tanpa membebani kapasitas produksi pelaku usaha.
Di sisi lain, Galau mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara kebutuhan pengadaan dalam skala besar dan pasokan pangan yang selama ini tersedia di pasar masyarakat.
Ia menyampaikan kajian Celios pada Mei 2026 yang mencatat hubungan statistik antara penambahan 10 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan kenaikan rata-rata harga pangan sekitar 0,08 persen pada tingkat kabupaten/kota.
Sementara itu, lanjut dia, hubungan dengan kenaikan harga komoditas yang umum digunakan dalam program Makan Siang Sekolah Bergizi (MBG) tercatat sekitar 0,12 hingga 0,13 persen.
Komoditas yang diteliti antara lain beras, telur, daging ayam, ikan, minyak goreng, gula, bawang dan cabai.
Galau menilai kondisi tersebut perlu diantisipasi melalui penguatan produksi dan distribusi agar peningkatan kebutuhan pangan tidak mengurangi ketersediaan bahan pokok bagi masyarakat.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!