Inggris Tolak Tekanan Uni Eropa untuk Kenakan Tarif Mobil Listrik Tiongkok
📅 Rabu, 14 Okt 2026, 15:45 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo SBurnham sebelumnya menyatakan keinginannya untuk membuka dialog yang lebih serius mengenai hubungan Inggris dengan Eropa. Meski belum secara resmi memasukkan isu tarif kendaraan China dalam agenda pertemuan, pemerintah Inggris berharap pembicaraan tersebut dapat memengaruhi arah kebijakan industri dan perdagangan Eropa ke depan.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah rencana penerapan aturan “Made in Europe”, yang bertujuan melindungi perusahaan Eropa dari persaingan impor China yang dinilai mendapat dukungan subsidi. Produsen Inggris khawatir kebijakan tersebut justru membuat perusahaan mereka tersisih dari rantai pasokan regional apabila tidak memperoleh akses yang setara.
Sejumlah pejabat Eropa bahkan mendorong Inggris agar menerapkan tarif terhadap kendaraan listrik Tiongkok sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan akses lebih luas ke pasar Eropa berdasarkan aturan perdagangan baru.
Namun, London menilai kerja sama industri lintas negara seharusnya tetap menjadi pertimbangan utama. Reynolds mengatakan dampak terhadap Uni Eropa akan lebih besar jika Inggris dikecualikan dari skema tersebut, mengingat eratnya keterkaitan sektor manufaktur kedua pihak.
Selain membahas hubungan dengan Uni Eropa, Reynolds juga melakukan kunjungan perdagangan ke New Delhi dan Mumbai untuk memperkuat hubungan ekonomi Inggris-India. Ia mengakui bahwa jika Inggris kembali bergabung dengan Uni Eropa, kesepakatan perdagangan bilateral yang telah dibuat dengan India perlu disesuaikan dengan kerangka perdagangan bersama blok tersebut.
Meski demikian, pemerintah Inggris tetap berupaya memperluas manfaat perjanjian perdagangan dengan India. Sejumlah investasi Inggris-India diumumkan dengan nilai yang diperkirakan mencapai lebih dari 1 miliar pound sterling bagi Inggris selama 15 tahun mendatang.
Kesepakatan perdagangan tersebut juga mulai memberikan dampak pada harga sejumlah produk, termasuk wiski Scotch di India. Penurunan tarif impor dari 150 persen menjadi 75 persen membuka peluang bagi produk Inggris untuk dijual dengan harga lebih kompetitif di pasar India.
Di tengah dinamika tersebut, Inggris berupaya menjaga keseimbangan antara kepentingan industri nasional, hubungan ekonomi dengan Uni Eropa, dan peluang perdagangan dengan negara lain.
Penolakan terhadap tekanan tarif Tiongkok menunjukkan bahwa London masih ingin mempertahankan ruang untuk menentukan kebijakan perdagangannya sendiri, meskipun pada saat bersamaan berusaha mempererat hubungan dengan Brussels.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!