Perusahaan Beralih ke Ruang Kerja Fleksibel di Tengah Perkembangan AI
📅 Senin, 12 Okt 2026, 12:27 WIB | Oleh: Haryo BronoJAKARTA — Perkembangan kecerdasan buatan (AI) mendorong perusahaan meninjau kembali kebutuhan ruang kantor dan strategi pengelolaan properti mereka. Ketidakpastian mengenai pola kerja dan kebutuhan tenaga kerja dalam beberapa tahun mendatang membuat perusahaan semakin mempertimbangkan ruang kerja fleksibel dibandingkan kontrak sewa kantor jangka panjang.
Studi terbaru International Workplace Group (IWG), perusahaan penyedia ruang kerja fleksibel yang menaungi merek Regus dan Spaces, menunjukkan bahwa 60 persen CEO dan chief financial officer (CFO) meyakini kemunculan AI membuat kebutuhan ruang kantor organisasi mereka sulit diprediksi untuk dua tahun ke depan.
Perubahan teknologi yang berlangsung cepat dinilai turut memengaruhi produktivitas, perencanaan tenaga kerja, dan cara perusahaan menjalankan bisnis. Kondisi tersebut mendorong para pemimpin perusahaan mencari model ruang kerja yang lebih mudah disesuaikan dengan kebutuhan operasional, sekaligus mengurangi komitmen biaya tetap.
Sebanyak 73 persen responden menyatakan perubahan teknologi, termasuk AI, membuat organisasi mereka semakin enggan terikat pada kontrak sewa kantor jangka panjang atau solusi properti konvensional.
AI Mengubah Strategi Pengelolaan Kantor
Sebaiknya Anda baca juga:
Ketidakpastian kebutuhan ruang kerja menjadi salah satu pertimbangan utama perusahaan dalam menentukan strategi properti. Sebanyak 88 persen CEO menyatakan kemunculan AI membuat organisasi mereka membutuhkan fleksibilitas lebih besar dalam pengaturan ruang kerja.
Teknologi juga mengubah cara perusahaan memandang lokasi kantor. Sebanyak 42 persen responden mengatakan perkembangan teknologi memungkinkan lebih banyak pekerjaan dilakukan dari jarak jauh sehingga kebutuhan terhadap kantor pusat dapat berkurang.
Sementara itu, 39 persen responden menilai perubahan teknologi mendorong penggunaan model kantor yang terdesentralisasi atau fleksibel. Sebanyak 37 persen lainnya menyebut teknologi memperluas akses perusahaan terhadap talenta global yang bekerja dari berbagai lokasi.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan kantor tidak lagi semata-mata ditentukan oleh jumlah karyawan yang bekerja di satu lokasi. Perusahaan juga perlu mempertimbangkan pola kerja hibrida (hybrid), distribusi tenaga kerja, dan kebutuhan ruang untuk kolaborasi tatap muka.
Biaya Properti Beralih ke Model Fleksibel
Pergeseran strategi pengelolaan kantor juga berkaitan dengan upaya perusahaan mengendalikan pengeluaran. Dalam penelitian IWG, sebanyak 99,8 persen CEO dan CFO menyatakan organisasi mereka secara aktif mengalihkan biaya properti dari pengeluaran tetap menjadi pengeluaran variabel.
Dengan pendekatan ini, perusahaan berupaya mengurangi kebutuhan modal yang terikat pada properti dan mengalokasikan sumber daya untuk mendukung pertumbuhan bisnis serta kebutuhan operasional lainnya.
Sebanyak 57 persen responden menyatakan organisasi mereka secara aktif berinvestasi dalam pengaturan kerja hibrida. Selain itu, 55 persen berencana membangun jaringan lokasi kerja yang lebih dekat dengan tempat tinggal karyawan, sedangkan 52 persen mempertimbangkan penerapan model ruang kerja terdesentralisasi.
Efisiensi biaya juga menjadi pertimbangan hampir seluruh responden dalam menentukan lokasi kantor. Sebanyak 99 persen CEO dan CFO menyatakan faktor tersebut memengaruhi keputusan mereka, dengan 27 persen menyebut efisiensi biaya sebagai pertimbangan utama.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!