BI Bisa Tahan Imbas Kebijakan The Fed dengan Ikut Menaikkan Suku Bunga
Jumat, 09 Okt 2026, 03:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: afp
WASHINGTON - Risalah rapat Federal Reserve AS yang dirilis pada Rabu (7/10), menunjukkan sebagian besar pengambil kebijakan memperkirakan kenaikan suku bunga pada akhir tahun, sebagai upaya bank sentral mengatasi inflasi yang masih tinggi.
Dalam pertemuan pada September, Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) secara bulat memutuskan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75-4,00 persen.
Rumah tangga dan pelaku usaha Amerika Serikat (AS) telah terdampak kenaikan harga selama bertahun-tahun sejak pandemi, sementara The Fed belum mampu mencapai target inflasi jangka panjang sebesar 2 persen selama lebih dari lima tahun.
“Sehubungan dengan prospek kebijakan moneter setelah pertemuan saat ini, sebagian besar peserta menilai kenaikan lagi dalam kisaran target suku bunga dana federal dengan kemungkinan dilakukan tepat pada akhir tahun,” sebut risalah rapat yang dirilis setelah jeda rutin selama tiga pekan.
Sejumlah peserta mengatakan suku bunga kebijakan sebelumnya dinilai belum cukup membatasi aktivitas ekonomi.
The Fed memiliki mandat ganda, yakni menjaga inflasi sesuai target sekaligus memastikan tingkat penyerapan tenaga kerja maksimum.
Tingkat pengangguran di AS relatif stabil selama setahun terakhir, meskipun pertumbuhan lapangan kerja mengalami fluktuasi. Stabilitas tersebut dipengaruhi perubahan demografi dan penurunan imigrasi.
“Hampir seluruh peserta menilai bahwa meskipun risiko inflasi cenderung meningkat, risiko terhadap pasar tenaga kerja telah berkurang dan kini secara umum berada dalam kondisi seimbang,” sebut Risalah rapat The Fed.
Inflasi berdasarkan indeks harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE), yang menjadi indikator inflasi pilihan The Fed, mencapai puncak 7,2 persen pada Juni 2022 sebelum mulai menurun.
Inflasi tersebut mencapai titik terendah 2,2 persen pada September 2024 sebelum kembali meningkat, yang sebagian didorong kebijakan ekonomi Presiden AS Donald Trump yang tidak menentu, termasuk penerapan tarif secara luas terhadap impor AS.
Perang Trump terhadap Iran semakin mendorong kenaikan harga sejak Februari, dengan biaya energi melonjak akibat tindakan balasan Teheran.
Inflasi PCE mencapai level tertinggi dalam tiga tahun sebesar 3,8 persen pada Mei, kemudian sedikit turun menjadi 3,4 persen pada Agustus, bulan terakhir yang datanya tersedia.
Para peserta rapat mencatat bahwa kemajuan dalam menurunkan inflasi dalam beberapa bulan terakhir belum memadai.
“Mereka mencatat bahwa perkembangan geopolitik yang terus berlangsung, yang telah mendorong kenaikan harga minyak mentah dan produk bahan bakar olahan, serta lonjakan investasi terkait AI turut meningkatkan tekanan inflasi,” kata risalah tersebut.
Para peserta juga menyampaikan kekhawatiran bahwa semakin lama harga energi bertahan pada level tinggi seperti saat ini, semakin besar risiko bahwa kenaikan biaya di sektor-sektor tertentu dapat memicu tekanan harga yang lebih luas.
Tiga Ancaman
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!