Pasar Makin Prospektif, Kemenperin Pacu Industri Mainan Tembus Pasar Global
📅 Senin, 05 Okt 2026, 16:35 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: Antara
JAKARTA – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memacu daya saing industri mainan nasional agar semakin kompetitif di pasar domestik dan global. Upaya penguatan dilakukan melalui peningkatan kualitas dan standardisasi produk, pengembangan kapasitas industri, serta perluasan akses pasar.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita mengatakan industri mainan memiliki potensi strategis sebagai sektor padat karya dan penghasil produk bernilai tambah, tidak hanya sebagai hiburan tetapi juga media edukasi anak.
"Tantangan utama industri nasional saat ini bukan sekadar kemampuan memproduksi, melainkan bagaimana kita memastikan produk-produk buatan dalam negeri diserap dan digunakan oleh masyarakat serta mampu mengambil peluang dalam rantai pasok global," ujar Reni di Jakarta, Senin (5/10).
Kemenperin mewujudkan komitmen tersebut melalui penyelenggaraan Indonesia Toy Forum 2026. Forum ini merupakan sinergi Ditjen IKMA dengan Asia Toy and Play Association (ATPA) yang mempertemukan pemerintah, pelaku industri, dunia pendidikan, dunia usaha, dan pemangku kepentingan untuk merumuskan arah pengembangan industri mainan.
Reni menekankan penguatan pasar domestik harus dilakukan melalui penerapan standar, peningkatan penggunaan produk dalam negeri, dan penguatan daya saing.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Kita perlu memperkuat pasar domestik melalui penerapan standar, peningkatan penggunaan produk dalam negeri, serta penguatan daya saing agar produk mainan buatan Indonesia semakin diminati di pasar nasional dan mampu memperluas penetrasi di pasar internasional," tuturnya.
Menurut Reni, pengembangan industri mainan harus menjadi upaya bersama. Pemerintah menciptakan iklim usaha dan kebijakan yang mendukung, pelaku industri menjadi motor inovasi, sektor pendidikan memberi perspektif kebutuhan pembelajaran, sementara sektor ritel dan perdagangan digital memperluas akses ke konsumen.
*Ekspor Mainan Naik 8,2 Persen*
Kemenperin mencatat prospek perdagangan industri mainan positif. Dalam lima tahun terakhir, industri mainan mencatat surplus net ekspor. Pada 2025, ekspor naik 8,2 persen dibanding 2024 menjadi USD 664,6 juta. Pada Januari-Juni 2026, ekspor naik dari USD 297,7 juta menjadi USD 351,8 juta dibanding periode sama tahun lalu.
Pasar ekspor utama meliputi Amerika Serikat, Inggris, Cina, Australia, dan Republik Ceko. "Capaian tersebut masih membuka ruang yang besar bagi Indonesia untuk meningkatkan penetrasi dan kontribusinya di pasar global," kata Reni.
Berdasarkan data BPS 2024 dan SIINas 2025, terdapat 256 unit usaha industri mainan dengan 15.663 tenaga kerja. Terdapat 10 sentra IKM mainan, terdiri dari empat sentra di Jawa Tengah, satu di Jawa Timur, dan lima di Jawa Barat.
Reni mengatakan industri mainan memiliki peran ganda, selain sektor ekonomi produktif juga berfungsi sebagai media pembelajaran interaktif untuk pengembangan kreativitas, kemampuan motorik, imajinasi, hingga problem solving anak.
"Hal ini memberikan peluang bagi industri mainan untuk mengembangkan produk seperti mainan edukatif, permainan konstruksi, puzzle, dan board game," ujarnya.
Hingga 2026, terdapat 65 pelaku industri mainan yang produknya mengantongi sertifikat Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), yang menunjukkan kemampuan industri memenuhi kandungan dalam negeri dan memperluas akses ke pengadaan pemerintah.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!