IHSG Hari Ini Menguat Dipicu Ekspektasi Dovish The Fed
📅 Senin, 05 Okt 2026, 18:05 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat mengikuti tren positif bursa Asia seiring meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter The Fed yang lebih dovish.
Harapan penurunan suku bunga AS mendorong sentimen positif terhadap aset berisiko dan berpotensi memperbaiki arus modal ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Kondisi ini memberi ruang bagi IHSG untuk menguat meski investor tetap mencermati risiko global dan arah kebijakan The Fed.
IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (5/10) sore ditutup menguat 81,97 poin atau 1,36 persen ke posisi 6.118,86 mengikuti penguatan bursa kawasan Asia dipicu oleh ekspektasi The Fed akan bersikap dovish pada pertemuan Oktober 2026.
Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 7,77 poin atau 1,30 persen ke posisi 603,23.
"Bursa regional Asia bergerak menguat seiring dengan data pekerjaan Amerika Serikat (AS) yang lebih lemah mendorong dan mengurangi tekanan pada The Fed untuk terus memperketat kebijakan moneter,” ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus alias Nico dalam kajiannya di Jakarta.
Dari mancanegara, data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan yaitu hanya menambah 29.000 pekerjaan pada September 2026, atau jauh di bawah ekspektasi peningkatan sebanyak 90.000.
Sementara itu, tingkat pengangguran naik menjadi 4,2 persen, dan pertumbuhan upah tahunan secara tak terduga melambat menjadi 3,0 persen.
Nico mengatakan, kondisi tersebut tentunya mengurangi tekanan terhadap The Fed untuk menaikkan suku bunga acuannya lebih lanjut, sehingga kemungkinan The Fed akan mempertahankan kebijakan suku bunga acuannya tidak berubah pada Oktober 2026.
“Namun demikian, pasar juga berhati-hati seiring dengan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan harga minyak dunia yang masih tinggi,” ujar Nico.
Dari dalam negeri, Nico mengatakan IHSG sedikit terbebani oleh sentimen tekanan melemahnya Rupiah, imbal hasil obligasi pemerintah AS yang masih tinggi, serta masih tingginya harga minyak dunia meskipun mulai mengalami penurunan.
Imbal hasil obligasi Treasury AS 10 tahun menurun menjadi sekitar 5,25 persen dan imbal hasil 30 tahun menurun ke arah 5,6 persen, namun demikian angka tersebut masih di level tinggi.
Begitu juga dengan harga minyak dunia yang masih tetap tinggi, sehingga kekhawatiran inflasi tetap menjadi fokus di tengah ketegangan Timur Tengah yang berkelanjutan.
"Alhasil ada kekhawatiran mengenai kerentanan eksternal Indonesia, meskipun surplus perdagangan Agustus 2026, dengan risiko inflasi meningkat setelah inflasi September meningkat menjadi 3,28 persen, mendekati batas atas target Bank Indonesia (BI) sebesar 3,5 persen,” ujar Nico.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!