Delta Mahakam, Perairan dan Hutan Mangrove yang Kaya Kehidupan
📅 Jumat, 02 Okt 2026, 07:27 WIB | Oleh: Haryo BronoJustru di sinilah keseruan menjelajahi Delta Mahakam yang luasnya mencapai 1.800 kilometer persegi. Mereka yang sedang beruntung bisa berjumpa dengan primata yang memiliki bulu cokelat kemerahan, sehingga oleh masyarakat sering disebut sebagai “monyet Belanda”.
Karena itu, kegiatan pengamatan membutuhkan kesabaran. Perahu dapat berhenti atau bergerak perlahan ketika pemandu mengetahui adanya keberadaan kawanan bekantan di sekitar tepian sungai yang dilewati.
Menjelang sore sering menjadi waktu yang menarik untuk melakukan pengamatan. Ketika cahaya matahari mulai melemah, bekantan dapat terlihat berada di pepohonan dekat sungai. Dari kejauhan, kelompok primata tersebut tampak berpindah dari satu dahan ke dahan lain atau mencari makanan di antara dedaunan.
Momen tersebut menjadi salah satu pengalaman yang membuat wisata alam di Delta Mahakam berbeda. Wisatawan tidak sekadar melihat satwa, tetapi menyaksikan perilaku alaminya dalam habitat yang menjadi bagian dari kehidupannya sehari-hari.
Namun, pengamatan satwa liar tetap perlu dilakukan dengan etika. Tidak seperti di tempat wisata yang dihuni kera ekor panjang (Macaca fascicularis), wisatawan sebaiknya menjaga jarak, tidak memberi makanan, tidak mengejar satwa, dan menghindari suara keras. Tujuannya agar aktivitas wisata tidak mengubah perilaku alami hewan di habitatnya.
Tidak Hanya Bekantan
Keanekaragaman hayati Delta Mahakam tidak berhenti pada keberadaan bekantan. Ekosistem mangrove dan perairan di sekitarnya menjadi tempat hidup berbagai organisme, mulai dari ikan, kepiting, moluska, hingga berbagai jenis burung.
Burung air menjadi salah satu kelompok satwa yang menarik untuk diamati. Beberapa jenis dapat terlihat mencari makan di tepian sungai atau bertengger di antara pepohonan. Untuk burung pemangsa atau raptor, antara lain elang bondol (Haliastur indus) dan elang sikep-madu Asia (Accipiter trivirgatus / alap-alap jambul).
Kelompok burung air dan burung rawa (waterbirds) meliputi famili Ardeidae (kuntul dan cangak), bangau tongtong (Leptoptilos javanicus), ibis karau (Pseudibis davisoni), itik kelabu atau belibis (Anas gibberifrons / Sunda teal), serta burung wader atau cerek.
Sementara itu, burung penghuni hutan mangrove dan rawa di antaranya adalah burung raja udang/pekaka, sikatan kipas (Rhipidura javanica), burung madu (Nectariniidae / Nectarina sp.), dan pelatuk kudung-merah (Chrysocolaptes lucidus / greater flameback).
Kawasan perairan dangkal di sekitar mangrove juga memiliki fungsi penting bagi berbagai organisme air. Akar mangrove menciptakan lingkungan yang menjadi tempat berlindung bagi biota berukuran kecil dan organisme yang berada pada tahap tertentu dalam siklus hidupnya.
Mangrove dan Bentang Alam Delta
Secara ekologis, keberadaan mangrove memiliki fungsi penting bagi kawasan pesisir. Sistem perakaran tanaman mangrove membantu menangkap sedimen dan menjadi bagian dari perlindungan alami kawasan pesisir terhadap dinamika air.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!