Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Hilirisasi Nikel Bikin Indonesia Kuasai 41 Persen Produksi Dunia, Ini Tantangannya

📅 Selasa, 29 Sep 2026, 04:02 WIB | Oleh: Tim Penulis
Hilirisasi Nikel Bikin Indonesia Kuasai 41 Persen Produksi Dunia, Ini Tantangannya Doc: Antara
Ket. Foto Arsip - Ketua Satgas Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional, yang juga Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia (dua kanan), mendampingi Presiden Prabowo Subianto (tengah) dalam acara Groundbreaking Proyek Hilirisasi Tahap II di Kilang Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (29/4).

Jakarta - Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Hilirisasi telah mendorong perubahan posisi Indonesia dalam industri nikel global, dari sebelumnya sebagai pengekspor bijih menjadi salah satu pusat produksi olahan nikel dunia.

" Peningkatan pangsa pasar nikel olahan Indonesia menunjukkan kebijakan larangan ekspor bijih berhasil menarik investasi smelter sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri. Indonesia juga telah berubah dari pengekspor bijih menjadi pusat produksi olahan," ujar Yusuf dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Senin (28/9).

Menurut dia, perkembangan industri pengolahan nikel dalam satu dekade terakhir membuat Indonesia menggeser Tiongkok sebagai produsen nikel olahan terbesar di dunia. Pangsa produksi nikel olahan Indonesia meningkat dari sekitar satu persen menjadi 41 persen dari total produksi dunia.

Peningkatan tersebut memberikan posisi tawar yang semakin besar bagi Indonesia di pasar global. Karena itu, Yusuf menilai kebijakan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam mengatur produksi melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) menjadi penting untuk menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan.

Menurut Yusuf, pengendalian produksi dapat membantu menjaga harga nikel sekaligus mengoptimalkan penerimaan negara. Namun, penetapan kuota harus mempertimbangkan kebutuhan bahan baku industri pengolahan agar operasional smelter di dalam negeri tetap berjalan optimal.

"Pengurangan volume dapat meningkatkan penerimaan negara jika mampu mengangkat harga, tetapi kuota tidak boleh terlalu ketat hingga smelter kekurangan bahan baku," ujarnya.

Yusuf mengatakan manfaat hilirisasi sejauh ini terlihat dari peningkatan investasi, ekspor, penerimaan negara, serta penciptaan lapangan pekerjaan di kawasan industri.

Meski demikian, peningkatan kapasitas produksi perlu diikuti kebijakan yang tepat agar manfaat tersebut tidak berhenti pada peningkatan volume produksi. Menurut dia, pengendalian produksi, insentif fiskal yang terarah, serta peningkatan standar lingkungan dan ketenagakerjaan diperlukan untuk memperkuat manfaat hilirisasi.

"Pangsa 41 persen merupakan modal tawar yang besar, tetapi baru menjadi kekuatan ekonomi jika Indonesia menguasai teknologi, memperluas pembeli, menjaga harga, dan mempertahankan lebih banyak nilai tambah di dalam negeri," kata Yusuf.

Rantai Pasok

Sementara itu, Akademisi Universitas Hasanuddin (Unhas) Suhasman menilai peningkatan nilai tambah melalui hilirisasi industri pertambangan dan mineral dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi Indonesia.

"Pengembangan industri pengolahan menjadi bagian penting agar komoditas mineral dapat menghasilkan nilai ekonomi yang lebih tinggi sebelum dipasarkan," kata Suhasman.

Ia mengatakan Indonesia memiliki sejumlah komoditas mineral strategis, antara lain nikel, tembaga, bauksit, emas, dan timah. Potensi tersebut dapat menjadi modal untuk memperkuat rantai pasok industri sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri.

Menurut Suhasman, pengelolaan sumber daya mineral tidak cukup hanya bertumpu pada kegiatan ekstraksi. Hilirisasi perlu mendorong keterkaitan antara sektor pertambangan dengan industri pengolahan dan manufaktur agar manfaat sumber daya mineral dapat menjangkau sektor ekonomi yang lebih luas.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...

Pengaturan pembelian BBM di Bali

1.5 jam yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Pengaturan pembelian BBM di...

Ritual Munara Fan Nanggi di Biak

1.5 jam yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Ritual Munara Fan Nanggi di...

Hiu paus terdampar di Bantul

1.5 jam yang lalu | Wahyu AP

Rona
Hiu paus terdampar di Bantul
Megapolitan
Semarak Hari Kebudayaan Nas...

Edukasi bantuan hidup dasar di Palu

1.5 jam yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Edukasi bantuan hidup dasar...
Nasional
Memperkuat penanganan karhu...

Bakti kesehatan Polri di Polres Jombang

1.5 jam yang lalu | Wahyu AP

Nasional
Bakti kesehatan Polri di Po...
Advertisement
Usai Prancis Membara, Kini Meksiko Rusuh Gara-gara Krisis Air

Usai Prancis Membara, Kini Meksiko Rusuh Gara-gara Krisis Air

19 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.