Bedah Robotik Bukan Operasi oleh Mesin, Dokter Tetap Memegang Kendali
📅 Minggu, 20 Sep 2026, 21:57 WIB | Oleh: Haryo BronoMenjadi Perempuan di Balik Konsol
Ada perjalanan lain yang menyertai perjalanan dr. Sita menggunakan teknologi tersebut. Ketika ia pertama kali bergabung dalam tim bedah robotik, bidang itu masih didominasi dokter laki-laki.
Keputusan untuk masuk ke ranah tersebut sempat membuatnya bertanya kepada diri sendiri.
“Awalnya saya sempat mikir, apa iya saya bisa masuk ke sana? Tapi kalau bukan perempuan yang ikut masuk ke ranah ini, siapa lagi yang akan lebih memahami apa yang dibutuhkan pasien perempuan?” ujarnya.
Pertanyaan itu kemudian menjadi salah satu alasan yang membuatnya bertahan.
Sebagai dokter spesialis obstetri dan ginekologi, dr. Sita berhadapan dengan pasien perempuan yang datang membawa persoalan reproduksi yang tidak selalu mudah diceritakan. Ada keluhan yang bagi sebagian pasien terasa terlalu pribadi untuk disampaikan kepada orang lain.
Dalam kondisi seperti itu, kehadiran dokter perempuan menurutnya dapat memberikan ruang yang berbeda bagi pasien untuk bercerita.
“Ada hal-hal yang pasien lebih nyaman ceritakan ke sesama perempuan, karena merasa lebih dipahami. Itu yang bikin saya merasa kehadiran dokter perempuan di ranah ini memang dibutuhkan,” katanya.
Maka, keberadaannya di depan konsol bukan hanya soal siapa yang mampu mengoperasikan sebuah teknologi. Ada dimensi lain: siapa yang hadir ketika pasien membutuhkan dokter yang memahami persoalan mereka sekaligus menguasai teknologi yang digunakan untuk menanganinya.
Ketika Presisi Dibutuhkan untuk Menyelamatkan Rahim
Dalam praktiknya, kemampuan robotik diuji ketika dokter berhadapan dengan kasus-kasus yang kompleks.
Dr. Sita dan tim menangani antara lain mioma multipel berukuran besar, kista dengan perlengketan luas, hingga endometriosis berat yang melibatkan sejumlah organ di sekitar rahim.
Kasus-kasus tersebut dapat menghadirkan tantangan tersendiri karena dokter perlu bekerja pada area yang sempit dan berdekatan dengan jaringan serta organ lain.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!