Bedah Robotik Bukan Operasi oleh Mesin, Dokter Tetap Memegang Kendali
📅 Minggu, 20 Sep 2026, 21:57 WIB | Oleh: Haryo BronoSeiring waktu, konsol yang pada awalnya terasa asing menjadi bagian dari rutinitasnya. Pengalaman menghadapi beragam kasus juga membentuk kemampuan dokter dan tim dalam menggunakan teknologi tersebut.
Perjalanan itu berlangsung bersamaan dengan perkembangan bedah robotik di RSU Bunda Jakarta. Sebagai salah satu pelopor penggunaan teknologi tersebut di Indonesia, rumah sakit itu telah menjalankan hampir 1.000 tindakan untuk berbagai kasus kompleks.
Bagi dr. Sita, angka tersebut bukan sekadar jumlah prosedur. Di balik setiap tindakan terdapat proses panjang untuk membangun pengalaman, memahami karakter teknologi, dan meningkatkan kemampuan tim dalam menghadapi situasi yang berbeda-beda.
“Kompetensi menangani kasus robotik tidak instan. Butuh waktu bertahun-tahun sampai saya benar-benar nyaman menghadapi kasus kompleks, dan itu masih terus berkembang,” ujarnya.
Ketika Kata “Robot” Membuat Pasien Cemas
Dalam konsultasi dengan pasien, salah satu pekerjaan dr. Sita justru bukan hanya menjelaskan penyakit atau pilihan operasi. Ia juga perlu membongkar persepsi tentang apa yang dimaksud dengan bedah robotik.
Kata “robot” sering kali membuat pasien membayangkan mesin yang bergerak secara mandiri. Padahal, dalam prosedur yang dijelaskan dr. Sita, robot merupakan alat bantu yang menerjemahkan gerakan dokter ke instrumen bedah.
Sebelum operasi dimulai, sistem robotik menjalani pemeriksaan keamanan untuk memastikan seluruh instrumen berfungsi dengan baik. Sistem tersebut juga memiliki tremor filter yang membantu menyaring getaran kecil pada tangan dokter sehingga gerakan instrumen dapat lebih stabil.
Namun, teknologi tetap berada di bawah kendali manusia.
“Robot ini alat bantu, bukan pengambil keputusan. Semua gerakan di dalam tubuh pasien itu dokter yang kendalikan, dari awal sampai akhir tindakan,” jelas dr. Sita.
Ia bahkan menggunakan prinsip sederhana untuk menggambarkan hubungan tersebut.
“Kalau tangan saya diam, instrumennya juga diam. Robot ini membantu saya bergerak lebih presisi dari tangan ‘telanjang’, tapi soal jaringan mana yang diangkat dan sejauh mana batasnya, itu murni keputusan dokter,” tambahnya.
Dengan kata lain, tidak ada dokter yang menyerahkan keputusan operasi kepada robot. Teknologi membantu memperkecil gerakan, meningkatkan stabilitas, dan memberikan kemampuan visualisasi serta kendali instrumen yang dibutuhkan dalam prosedur tertentu. Keputusan klinis tetap berada pada dokter.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!