'About a Place in the Kinki Region': Investigasi yang Mengungkap Teror Supranatural Urban Legend
📅 Jumat, 18 Sep 2026, 00:07 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo SAbout a Place in the Kinki Region menjadi salah satu sajian horor Jepang yang menarik perhatian karena menggabungkan investigasi misteri, urban legend, rekaman video lama, dan teror supranatural dalam satu cerita yang perlahan membuka kengerian.
Film garapan Kōji Shiraishi ini mengikuti penyelidikan terhadap hilangnya seorang editor majalah okultisme. Sang editor sebelumnya tengah mengumpulkan berbagai artikel, rumor, kisah hantu dan legenda urban dari wilayah Kinki sebelum menghilang.
Temannya, seorang penulis lepas, kemudian mencoba menyelesaikan pekerjaan tersebut. Dari berbagai bahan yang ditinggalkan, muncul pola yang awalnya sulit dipahami. Rekaman video, laporan lama, hingga cerita mengenai kejadian-kejadian aneh ternyata mengarah pada satu tempat tertentu di wilayah Kinki.
Film ini menggunakan teknik found footage sebagai salah satu elemen utama. Namun Shiraishi tidak sepenuhnya terjebak dalam format tersebut. Adegan investigasi konvensional bergantian dengan rekaman VHS, video internet, berita lama dan berbagai materi yang ditemukan karakter utama.
Menurut ulasan RMITV, perpindahan antara gambar sinematik dan rekaman berformat lama justru menjadi salah satu kekuatan film. Rekaman dibuat menyerupai berbagai teknologi video dari era berbeda, lengkap dengan kualitas gambar yang buruk, warna pudar dan artefak digital.
Strategi tersebut membuat Kinki terasa seperti kumpulan bukti yang sedang dirangkai penonton bersama para karakter. Satu rekaman mungkin terlihat seperti kejadian yang berdiri sendiri, tetapi perlahan muncul hubungan dengan rekaman lainnya.
Hal ini mengingatkan pada Noroi: The Curse, film Shiraishi tahun 2005 yang dikenal sebagai salah satu karya penting dalam horor found footage Jepang. Beberapa kritikus bahkan melihat Kinki sebagai salah satu film Shiraishi yang paling dekat dengan gaya Noroi dalam beberapa tahun terakhir.
Namun Kinki tidak sekadar mengulang formula lama.
Salah satu perbedaannya adalah cara film memanfaatkan jumlah materi yang sangat banyak. Rekaman-rekaman pendek dari berbagai periode membuat misteri terasa semakin besar, sementara hubungan antarkejadian baru terlihat setelah informasi dikumpulkan sedikit demi sedikit.
RMITV menilai film ini mampu menghindari sebagian klise found footage, terutama penggunaan kamera goyang berlebihan, efek glitch yang dibuat-buat, dan jump scare yang terus-menerus. Ketegangan justru sering dibangun melalui gambar yang dibiarkan berlangsung lebih lama, sehingga penonton dibuat menunggu sesuatu yang terasa tidak terhindarkan.
Horornya juga tidak selalu mengandalkan penampakan brutal. Sosok misterius, suara dari kejauhan, anak-anak menyeramkan, tempat terbengkalai dan rekaman yang tampaknya tidak berhubungan menjadi bagian dari atmosfer film.
Ulasan Grimoire of Horror menilai kualitas rekaman yang sengaja dibuat kasar berhasil menciptakan kesan realistis, sementara adegan horor konvensional tetap digunakan untuk membawa gangguan dari dunia rekaman ke realitas karakter.
Menariknya, film juga memiliki sedikit humor gelap. Salah satu contohnya adalah ketika karakter menyadari bahwa mereka sedang berhadapan dengan jenis video yang dalam budaya horor Jepang sudah sangat identik dengan konsep "menonton sesuatu yang membawa kematian". Referensi semacam ini membuat film sesekali menyadari betapa akrabnya formula tersebut bagi penggemar J-horror.
Di sisi lain, Kinki tetap memiliki kelemahan. Beberapa elemen supernatural yang digunakan sebenarnya sudah sangat familiar bagi penggemar horor Jepang: perempuan berambut panjang, sosok hantu, gambar anak-anak yang mengganggu, dan kemunculan tangan atau sosok secara tiba-tiba.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!