Kemenpar Dorong Wisata Batik Jadi Tren Baru, Wisatawan Diajak Rasakan Langsung Proses Membatik
📅 Kamis, 01 Okt 2026, 02:01 WIB | Oleh: Tim PenulisJakarta - Kementerian Pariwisata mendorong para pelaku usaha pariwisata, termasuk agen perjalanan dan operator tur, untuk menyediakan paket wisata batik berbasis pengalaman bagi wisatawan mancanegara maupun domestik.
Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata Ni Made Ayu Marthini mengatakan wisatawan saat ini semakin menyukai kegiatan wisata yang memberikan pengalaman mengesankan dan memungkinkan mereka berinteraksi langsung dengan budaya lokal.
Menurut dia, paket wisata dapat dikembangkan dalam berbagai bentuk, seperti lokakarya singkat membatik selama dua jam atau tur setengah hari ke sentra produksi batik yang dilengkapi dengan kegiatan membatik.
"Potensi batik sangat menarik karena batik bukan sekadar produk, tetapi juga proses dan filosofi hidup. Ini yang disebut UNESCO sebagai warisan budaya takbenda sejak 2009," kata Ni Made Ayu Marthini di Jakarta, Rabu (30/9).
Ia mengatakan penyelenggara wisata juga dapat menawarkan pengalaman tinggal selama beberapa hari di daerah sentra batik dengan melibatkan perajin lokal. Wisatawan dapat diajak mengenal proses pembuatan batik sekaligus memahami filosofi yang terkandung di dalamnya.
"Wisatawan bisa diajak jalan kaki pelan menyusuri gang kampung, masuk ke rumah perajin satu per satu, lihat canting, pewarnaan, jemuran," ujarnya.
Menurut Made, pengalaman tersebut tidak hanya memberikan pemahaman kepada wisatawan mengenai batik, tetapi juga dapat meningkatkan apresiasi terhadap produk yang dihasilkan perajin.
"Wisatawan yang paham filosofi akan lebih menghargai harga batik tulis," katanya.
Layanan wisata berbasis pengalaman tersebut, lanjut dia, juga berpotensi membuat wisatawan tinggal lebih lama di kampung batik sekaligus mendorong peningkatan pembelian produk dari perajin setempat.
Kementerian Pariwisata merekomendasikan sejumlah daerah sebagai tujuan wisata batik, antara lain Pekalongan, Solo, Sragen, Yogyakarta, Cirebon, Madura, dan Jambi.
Made mengatakan batik memiliki potensi untuk menjadi daya tarik bagi wisatawan dari berbagai negara dengan latar belakang dan minat yang berbeda.
Wisatawan dari negara-negara Asia Tenggara seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand, misalnya, umumnya memiliki ketertarikan terhadap batik karena adanya kedekatan budaya.
Sementara itu, wisatawan dari Jepang dan Korea Selatan dinilai memiliki ketertarikan terhadap keahlian dan detail yang terdapat dalam proses pembuatan batik.
Adapun wisatawan dari negara-negara Eropa seperti Belanda, Jerman, dan Prancis dapat menjadi pasar potensial karena ketertarikan terhadap budaya dan slow fashion. Sementara wisatawan dari Amerika dan Australia dinilai menyukai pengalaman wisata yang memiliki unsur cerita.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!