Pasokan Biosolar Tersendat, Harga Pangan Terancam Naik
📅 Jumat, 04 Sep 2026, 00:00 WIB | Oleh: Tim RedaksiKebijakan pembatasan BBM subsidi harus diiringi pengawasan distribusi dan ketersediaan energi agar upaya efisiensi fiskal tidak berujung pada kenaikan harga pangan.
JAKARTA – Kenaikan harga sejumlah bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi sejak awal bulan ini berpotensi menambah tekanan biaya distribusi, terutama jika terjadi pergeseran konsumsi dari BBM subsidi ke nonsubsidi. Meski harga Biosolar subsidi tetap 6.800 rupiah per liter, pemerintah tetap perlu memastikan pasokannya tersedia di simpul-simpul logistik utama.
Stabilitas pasokan menjadi penting karena biaya transportasi merupakan salah satu komponen yang memengaruhi harga pangan. Jika distribusi terganggu atau biaya angkut meningkat, tekanan harga dapat merambat dari tingkat logistik hingga konsumen.
Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa memperingatkan kenaikan harga BBM nonsubsidi mulai 1 September 2026 dapat merembet ke harga pangan jika pasokan Biosolar tersendat. “Pasokan BBM bersubsidi saat ini menghadapi kendala akibat langkah pengendalian penjualan, sementara volume solar diperkirakan melampaui kuota pada akhir 2026,” ujar Fabby, Kamis (3/9).
Fabby menilai pengetatan distribusi memang diperlukan, tetapi harus diarahkan untuk mencegah kebocoran solar bersubsidi kepada industri atau konsumen yang tidak berhak sesuai Perpres 119/2014. Jika pengawasan tidak fokus pada kebocoran, kelangkaan Biosolar dapat memaksa pelaku usaha beralih ke Dexlite atau Pertamina Dex yang harganya lebih tinggi. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan biaya logistik dan mendorong inflasi pangan.
Karena itu, Fabby meminta pemerintah memastikan pasokan biosolar tetap tersedia bagi kelompok yang berhak, terutama petani, nelayan, UMKM, dan transportasi publik, sementara industri besar yang mampu membeli BBM nonsubsidi tidak ikut menyerap kuota BBM bersubsidi.
Berdasarkan penetapan 1 September 2026, di wilayah DKI Jakarta harga Pertamax Turbo naik dari 18.300 rupiah menjadi 19.600 rupiah per liter, Dexlite dari 19.700 rupiah menjadi 23.700 rupiah per liter, dan Pertamina Dex dari 21.150 rupiah menjadi 25.200 rupiah per liter. Sementara harga Pertamax, Pertalite dan Biosolar tidak mengalami kenaikan.
Transmisi Kenaikan
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai dampak langsung penyesuaian harga BBM terhadap inflasi relatif terbatas karena BBM yang mengalami kenaikan bukan jenis yang paling banyak digunakan masyarakat. Namun, risiko yang perlu diwaspadai adalah dampak tidak langsung melalui peningkatan biaya logistik dan produksi, terutama pada angkutan barang berbahan bakar diesel nonsubsidi, distribusi pangan, serta industri yang bergantung pada kendaraan atau genset.
Menurut Rendy, keterbatasan pasokan biosolar yang memaksa pelaku usaha beralih ke Dexlite atau Dex akan langsung meningkatkan biaya operasional. Dampaknya paling cepat terasa pada pangan mudah rusak dengan rantai pasok panjang seperti ayam, cabai, ikan, dan produk hortikultura.
“Transmisi kenaikan biaya ke konsumen dapat terjadi dalam beberapa hari hingga dua minggu untuk angkutan, sementara barang konsumsi dan industri membutuhkan sekitar satu hingga tiga bulan,” tegasnya.
Karena itu, mitigasi sebaiknya tidak dilakukan dengan menahan seluruh harga energi, melainkan dengan mencegah kenaikan biaya operasional merembet luas ke harga pangan. Periode Oktober-Desember juga perlu diwaspadai apabila tekanan biaya energi terjadi bersamaan dengan gangguan cuaca.
Ketua Umum Indonesia Center for Renewable Energy Studies (ICRES), Surya Darma menilai kelancaran pasokan biosolar penting untuk menjaga stabilitas biaya distribusi dan harga pangan. Menurutnya, solusi tidak seharusnya diserahkan sepenuhnya kepada mekanisme pasar karena dapat meningkatkan ketergantungan Indonesia terhadap impor diesel fosil dan memperbesar risiko price shock akibat ketidakpastian geopolitik.
ICRES mendorong penguatan dan konsistensi program biosolar B50, yang menggunakan campuran 50 persen FAME dari CPO domestik, sebagai bagian dari strategi transisi energi sekaligus perlindungan terhadap gejolak harga minyak dunia. Untuk itu, ada tiga langkah yang diusulkan, yakni konsisten menjalankan mandatori B50, mengamankan rantai pasok CPO dan suplai Biosolar di sentra logistik, serta menjadikan Biosolar sebagai pilar ketahanan energi nasional.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!