Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

BI-Rate Saja Tak Cukup, Gubernur BI Destry Damayanti Ungkap Taktik Baru Hadapi Gelombang Ekonomi Global

6 Kamis, 03 Sep 2026, 17:20 WIB | Oleh:
BI-Rate Saja Tak Cukup, Gubernur BI Destry Damayanti Ungkap Taktik Baru Hadapi Gelombang Ekonomi Global BI-Rate Saja Tak Cukup, Gubernur BI Destry Damayanti Ungkap Taktik Baru Hadapi Gelombang Ekonomi Global Doc: ANTARA/Rizka Khaerunnisa
Ket. Tangkapan layar Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti dalam acara Saresehan 100 Ekonom Indonesia di Jakarta, Kamis (3/9).

JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menegaskan bahwa bank sentral tidak bisa hanya mengandalkan kebijakan moneter atau BI-Rate untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di tengah tantangan global yang kian kompleks, Kamis (3/9). 

“Ruang ini masih ada, masih besar (ruang pertumbuhan ekonomi). Tapi kalau kita hanya mengandalkan kebijakan moneter itu pasti tidak akan cukup karena di satu sisi kita menghadapi situasi higher for longer dari global,” kata Destry dalam acara Saresehan 100 Ekonom Indonesia di Jakarta, Kamis.

Ia menjelaskan bahwa negara-negara maju, seperti Eropa dan Amerika Serikat (AS), secara umum menghadapi inflasi yang tinggi sehingga peluang penurunan suku bunga akan semakin kecil.

Kemudian, imbal hasil (yield) surat utang pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) tenor 10 tahun juga meningkat berada di kisaran 4,5-4,6 persen dari kondisi normal yang dalam kisaran 3 persen.

Indeks mata uang dolar AS terhadap negara maju (DXY) juga semakin meningkat. Sementara pertumbuhan ekonomi AS mengalami perlambatan dibanding periode sebelumnya.

“Ini kondisi yang kalau misalnya kita lihat cuma inflasi saja naik, Amerika harus menaikkan suku bunga, itu pasti pertimbangannya tidak akan semudah itu, karena dia akan menekan ekonomi dan sebagainya. Jadi artinya, apa yang dihadapi oleh kita sekarang ini permasalahan semakin kompleks karena keterkaitan satu isu dengan isu lain itu makin tinggi,” jelas Destry.

Dalam situasi seperti sekarang, Destry mengatakan instrumen suku bunga atau BI-Rate saja tidak cukup untuk kebijakan domestik. Apabila suku bunga global semakin meningkat, Indonesia tetap membutuhkan inflow sehingga bank sentral harus mengupayakan strategi agar aset rupiah tetap menarik bagi investor asing.

Di sisi lain, ia menambahkan bahwa ekonomi Indonesia masih berada di bawah potensinya sehingga pertumbuhan yang lebih tinggi masih terbuka lebar. Dengan demikian, BI tidak bisa hanya mengandalkan BI-Rate semata di tengah situasi global yanghigher for longer.

“Jadi apa yang kita lakukan? Kita kombinasi dengan kebijakan kita lainnya yaitu kebijakan makroprudensial,” kata Destry.

Ia menambahkan bahwa saat ini bank sentral tengah mengoptimalkan kebijakan makroprudensial untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.

Giro wajib minimum (GWM) rupiah untuk bank umum konvensional sebenarnya efektif berada di level 9 persen, namun bank sentral telah memberikan insentif sehingga terjadi penurunan GWM di mana kelebihan likuiditas tersebut dikembalikan kepada perbankan agar disalurkan ke sektor prioritas.

Melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM), total insentif yang telah diperoleh perbankan hingga awal Agustus 2026 mencapai Rp446,5 triliun atau 5,02 persen dari dana pihak ketiga (DPK).

Di sisi lain, ujar Destry, BI juga memahami adanya persoalan likuiditas perbankan yang tidak tersebar secara merata meski rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) industri masih tergolong ample.

Berdasarkan analisis secara granular, BI menilai masih banyak perbankan yang menempatkan likuiditas di Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk tujuan investasi.

Oleh sebab itu, untuk mengatasi segmentasi likuiditas, BI mengeluarkan kebijakan insentif KLM Pendalaman Pasar Uang dengan besaran paling tinggi sebesar 2 persen dari DPK. Insentif diberikan bagi bank yang menjaga rasio kepemilikan SBN dan SRBI non-repo terhadap total pendanaan di bawah 19 persen.

Sementara itu, alokasi KLM financing channel disesuaikan menjadi paling tinggi 4 persen dari DPK. Dengan demikian, total insentif KLM kini menjadi 6 persen.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Angkatan Darat AS Berlatih Menggali Kuburan Massal untuk Skenario Perang dengan Banyak Korban
    Apa mungkin AS akan melakukan invasi darat ke ...
  • Satgas Penertiban Kawasan Hutan Selidiki Perusahaan AK, Jejak Hubungan dengan Oknum Aparat Didalami
    Ditanya siapa ak itu kq malah balik bertanya? ...
  • Andrea Bocelli Bikin Jakarta Terpukau! Konser Romanza Hadirkan Malam Penuh Keajaiban
    Salut banget dengan konser Andrea Bocelli sangat mengharumkan ...
  • Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit
    Berita yang sangat melegakan bagi kita yang bergerak ...
  • Jakarta Timur Bersiap Jadi Magnet Investasi Baru, Kawasan 370 Hektare Ini Dilirik
    Tidak akan sukses. Catat ini. Ormas sm warlok ...
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Megapolitan
Sudin SDA Jakarta Pusat Nor...
Rona
Mark Lee Rilis Single Terba...
Rona
Kris Dayanti Ajak Musisi Di...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Kabar Baik! Pemerintah Buka CPNS November 2026, 139 Ribu Formasi Guru Menanti

Kabar Baik! Pemerintah Buka CPNS November 2026, 139 Ribu Formasi Guru Menanti

06 Nov 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.