Jangan Sampai Ketinggalan! Ini Rahasia Industri Petrokimia RI Biar Nggak Tumbang Dihajar China
Jumat, 06 Nov 2026, 19:30 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: istimewa
JAKARTA — Industri petrokimia nasional mendorong penguatan ketahanan bahan baku melalui diversifikasi feedstock sekaligus kepastian kebijakan energi dan insentif. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga daya saing industri di tengah volatilitas harga komoditas dan ketidakpastian geopolitik global.
Direktur Industri Kimia Hulu, Direktorat Jenderal Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil (IKFT), Kementerian Perindustrian, Sri Bimo Pratomo, mengatakan kebutuhan bahan baku industri petrokimia nasional masih cukup bergantung pada impor, terutama untuk nafta dan LPG.
Ketergantungan tersebut membuat industri rentan terhadap perubahan harga komoditas global, nilai tukar, biaya logistik dan gangguan rantai pasok akibat perkembangan geopolitik.
“Bahan baku seperti nafta dan LPG masih dipenuhi dari impor, sehingga sangat terdampak situasi geopolitik global dan fluktuasi nilai tukar,” ujar Sri Bimo dalam Diskusi Media Gathering FORWIN 2026 bertema "Outlook Industri Petrokimia 2027," di Sentul, Jawa Barat, Jumat (6/11/2026).
Karena itu, pemerintah mendorong diversifikasi sumber bahan baku sekaligus memperkuat kepastian pasokan energi. Salah satu kebijakan yang menjadi perhatian industri adalah pemberian bea masuk 0% untuk LPG yang digunakan sebagai bahan baku petrokimia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sementara itu, kebijakan penurunan bea masuk LPG menjadi 0% untuk bahan baku petrokimia berlaku sementara hingga Januari 2027.
Sri Bimo mengatakan Kementerian Perindustrian tengah menyusun kajian untuk mengusulkan keberlanjutan kebijakan tersebut kepada pemerintah.
“Dari hasil perhitungan Kemenperin, selama empat bulan kebijakan ini berjalan terjadi peningkatan produktivitas yang cukup baik di industri petrokimia,” ujarnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurut Sri Bimo, LPG dalam industri petrokimia berfungsi sebagai salah satu alternatif bahan baku yang dapat menggantikan sebagian penggunaan nafta. Karena itu, keberlanjutan kebijakan tersebut dinilai dapat memberikan ruang bagi industri untuk mengoptimalkan komposisi bahan baku sesuai kondisi pasar.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas), Fajar Budiono, mengatakan fleksibilitas penggunaan feedstock menjadi semakin penting bagi industri petrokimia.
Perkembangan teknologi memungkinkan sejumlah fasilitas produksi menggunakan kombinasi nafta, LPG dan kondensat sebagai bahan baku. Dengan demikian, produsen dapat menyesuaikan komposisi feedstock berdasarkan harga dan ketersediaan masing-masing bahan.
“Dulu kita 100% menggunakan Nafta. Siklus harga LPG ini fluktuatif; saat musim dingin harganya lebih mahal dari Nafta, tapi saat musim panas harganya bisa jauh di bawah Nafta. Jadi, pabrik bisa mengatur secara fleksibel persentase campuran mana yang menghasilkan margin maksimum,” ujar Fajar.
Menurut Fajar, fleksibilitas tersebut juga memperkuat ketahanan pasokan karena industri tidak hanya bergantung pada satu jenis bahan baku.
Selain mempertahankan fleksibilitas feedstock, industri juga mendorong pengembangan sumber bahan baku alternatif dari dalam negeri. Salah satu peluang yang dinilai potensial adalah pengembangan Coal-to-Chemical melalui gasifikasi batu bara.
Teknologi tersebut dapat mengolah batu bara menjadi metanol yang selanjutnya dapat dikembangkan menjadi bahan baku petrokimia seperti ethylene dan propylene.
“Teknologi Coal-to-Petrochemical dari China itu sekarang sudah banyak dan murah. Kendalanya, batu bara kita yang low-rank (kalori rendah) itu lokasinya jauh di tengah-tengah Kalimantan atau Sumatera, jauh dari pantai, sehingga ongkos logistiknya mahal,” jelas Fajar.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!