Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Rupiah Hari Ini Kembali Tertekan, Yield Treasury AS Jadi Biang Kerok

📅 Rabu, 02 Sep 2026, 17:50 WIB | Oleh: Tim Penulis
Rupiah Hari Ini Kembali Tertekan, Yield Treasury AS Jadi Biang Kerok Doc: ANTARA/ Dhemas Reviyanto
Ket. Ilustrasi-Petugas menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing Dolarindo, Melawai, Jakarta.

JAKARTA – Pelemahan rupiah kembali menunjukkan kuatnya pengaruh sentimen eksternal, terutama kenaikan imbal hasil US Treasury.

Yield yang lebih tinggi meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar AS, sehingga mendorong aliran dana keluar dari aset negara berkembang dan memperkuat dolar.

Kondisi ini membuat rupiah semakin tertekan, terlebih ketika pasar masih memperhitungkan arah kebijakan The Fed dan meningkatnya risiko inflasi global.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan, Rabu (2/9), bergerak melemah 19 poin atau 0,11 persen menjadi Rp17.763 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.744 per dolar AS.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa menyatakan pelemahan rupiah dipengaruhi kenaikan imbal hasil Treasury AS.

“Rupiah masih menghadapi tekanan dari penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil Treasury AS di tengah meningkatnya ekspektasi terhadap kebijakan The Fed yang lebih ketat,” ujarnya kepada ANTARA, di Jakarta.

Kenaikan harga minyak akibat meningkatnya ketegangan geopolitik, juga dinilai menjadi perhatian karena berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global.

Melihat sisi domestik, sentimen terhadap rupiah berasal dari rilis PMI Manufaktur Indonesia pada Agustus yang kembali berada di zona kontraksi di level 49,8. Angka ini menunjukkan aktivitas manufaktur masih menghadapi tekanan, sehingga menjadi salah satu sentimen negatif terhadap rupiah.

Sementara itu, inflasi Agustus meningkat menjadi 3,19 persen secara tahunan dari 2,88 persen pada Juli, namun masih berada dalam kisaran sasaran Bank Indonesia (BI). Kondisi tersebut dianggap dapat menjadi pertimbangan bagi BI dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.

Di sisi lain, neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat surplus sekitar 120 juta dolar AS pada Juli pasca mengalami defisit 450 juta dolar AS pada bulan sebelumnya.

“Surplus perdagangan memberikan dukungan terhadap rupiah melalui pasokan devisa, meskipun nilainya relatif tipis karena pertumbuhan impor sebesar 27,02 persen secara tahunan jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekspor sebesar 6,05 persen,” ungkap Amru.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah di level Rp17.770 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.727 per dolar AS.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Luar Negeri
Mobil Tabrak Kerumunan Oran...
Wisata
Prosesi adat kansoda'a di W...
Rona
7 Drama Korea Baru Wajib Di...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.