Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

CORE Tegaskan: Beras Jangan Diekspor Dulu, Rakyat Harus Jadi Prioritas!

3 Selasa, 25 Agu 2026, 10:50 WIB | Oleh: Tim Penulis
CORE Tegaskan: Beras Jangan Diekspor Dulu, Rakyat Harus Jadi Prioritas! CORE Tegaskan: Beras Jangan Diekspor Dulu, Rakyat Harus Jadi Prioritas! Doc: ANTARA/ HO-Perum Bulog
Ket. Ilustrasi-Petani memasukkan gabah kering panen (GKP) ke dalam karung saat proses penyerapan hasil panen oleh Bulog Kantor Cabang Bogor di wilayah Bogor, Jawa Barat.

JAKARTA – Memprioritaskan pemerataan distribusi dan akses beras di dalam negeri lebih strategis untuk menjaga ketahanan pangan dan stabilitas harga.

Produksi yang tinggi tidak otomatis menjamin masyarakat memperoleh beras dengan harga terjangkau jika distribusi masih timpang.

Karena itu, sebelum mendorong ekspor, pemerintah perlu memastikan stok domestik aman, pasokan merata, dan daya beli masyarakat terlindungi. Ekspor sebaiknya menjadi langkah lanjutan setelah kebutuhan nasional benar-benar terpenuhi.

Pengamat pertanian Center of Reform on Economics (CORE) Eliza Mardian mendorong pemerintah memprioritaskan pemerataan distribusi dan akses beras di dalam negeri sebelum memperluas peluang ekspor, meskipun produksi beras nasional diproyeksikan mengalami surplus.

“Lebih baik fokus dulu pembenahan dalam negeri. Dalam kerangka ketahanan pangan yang utuh, indikatornya bukan cuma ketersediaan, tetapi juga akses, keterjangkauan, dan stabilitas,” kata Eliza saat dihubungi di Jakarta, Senin (24/8).

Berdasarkan proyeksi neraca pangan Kementerian Pertanian, produksi beras pada 2026 diperkirakan mencapai 34,77 juta ton, sedangkan kebutuhan nasional sebesar 31,10 juta ton sehingga terdapat surplus sekitar 3,67 juta ton.

Di sisi lain, Perum Bulog mencatat stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola mencapai 5,25 juta ton per 9 Agustus 2026.

Dengan kondisi tersebut, pemerintah mulai menjajaki pasar ekspor beras, termasuk ke Malaysia dengan rencana pengiriman awal sebanyak 1.000 ton.

Namun, Eliza menilai pemerintah sebaiknya memastikan distribusi domestik berjalan baik sebelum membuka pasar ekspor dalam skala lebih luas. Hal tersebut dinilai penting agar ekspor tidak menimbulkan persoalan baru berupa kenaikan harga atau kekurangan pasokan di daerah tertentu.

Menurut dia, surplus produksi beras secara nasional belum otomatis berarti seluruh masyarakat Indonesia telah memiliki akses terhadap beras dengan harga terjangkau.

Persoalan distribusi masih menjadi tantangan, terutama di wilayah terpencil dan pulau-pulau kecil. Eliza mencontohkan harga beras di sejumlah wilayah Indonesia timur yang masih berada di atas rata-rata nasional.

Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang diakses pada Senin (24/8), rata-rata harga beras kualitas medium I secara nasional tercatat Rp16.500 per kilogram.

Namun, harga beras di sejumlah wilayah Indonesia timur berada di atas rata-rata nasional. Harga rata-rata beras kualitas medium I di Maluku tercatat Rp17.600 per kg, Maluku Utara Rp18.000 per kg, dan Papua Rp19.350 per kg.

Harga yang lebih tinggi juga tercatat di Kabupaten Jayawijaya yang mencapai Rp23.500 per kg, sedangkan di Kabupaten Mimika Rp19.500 per kg.

“Ekspor sebaiknya dilakukan setelah stok domestik aman di seluruh daerah, bahkan hingga ke pelosok-pelosok, dan harga petani stabil,” kata Eliza.

Ia mendorong pemerintah memperkuat infrastruktur distribusi, termasuk menambah gudang penyimpanan di kabupaten terpencil, menjalankan operasi pasar secara rutin di wilayah dengan biaya logistik tinggi, serta memperbaiki konektivitas antarpulau agar biaya angkut tidak terlalu membebani harga akhir.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit
    Berita yang sangat melegakan bagi kita yang bergerak ...
  • Jakarta Timur Bersiap Jadi Magnet Investasi Baru, Kawasan 370 Hektare Ini Dilirik
    Tidak akan sukses. Catat ini. Ormas sm warlok ...
  • Industri Makanan dan Minuman Tumbuh 7,04 Persen, KRISTA InterFOOD 2026 Perluas Peluang Bisnis
    Pencapaian kinerja industri mamin yang impresif ini tentu ...
  • Ekspor Tembus 4,85 Miliar Dolar AS, UGM Dorong Teknologi Hijau Industri Kulit
    Ekspor kulit tembus 4,85 miliar dolar AS, UGM ...
  • GrabMart Catat Lonjakan Pesanan Dini Hari, Strategi Pemasaran Brand Perlu Berubah
    Banyak sekarang pekerja kantoran sampe rumah malam, lalu ...

Bansos bagi 2.200 Warga Tangerang Cair

44 menit yang lalu | Sujar

Megapolitan
Bansos bagi 2.200 Warga Tan...
Megapolitan
Makanan Minuman dan Tembaka...
Olahraga
Bayi Ajaib Itu Kini Tak Lag...
Luar Negeri
Indonesia Perluas Kerja Sam...
Advertisement
Polemik Kadar Emas, Konsumen Soroti Perbedaan Hasil Pengujian

Polemik Kadar Emas, Konsumen Soroti Perbedaan Hasil Pengujian

02 Nov 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.