Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kepulauan Pasifik Terancam Kekurangan Pangan

📅 Kamis, 03 Sep 2026, 02:15 WIB | Oleh:
Kepulauan Pasifik Terancam Kekurangan Pangan Doc: The Pacific Community
Ket. Andrew Jones

KOROR – Kepulauan Pasifik akan menghadapi kekurangan pangan dan air minum sebagai dampak naiknya permukaan laut, kata para ilmuwan pada Rabu (2/9), seiring dengan laporan PBB yang menemukan bahwa dunia akan gagal membatasi pemanasan global hingga 1,5 derajat Celsius.

Sebuah laporan dari Program Lingkungan PBB (UNEP) memproyeksikan kenaikan suhu global akan mencapai puncaknya pada 1,8 derajat Celsius di atas tingkat praindustri, melampaui target pembatasan pemanasan hingga 1,5 derajat Celsius yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris.

Para ilmuwan mengatakan dalam pertemuan puncak para pemimpin Pasifik di Palau bahwa dampak dari terlampauinya target tersebut akan mengakibatkan kerugian sebesar 90 juta dollar AS dalam biaya izin penangkapan ikan atau 13 persen dari pendapatan pemerintah di kawasan tersebut, yang menyebabkan terjadinya krisis ekonomi.

Ikan tuna akan bermigrasi ke timur, menjauhi negara-negara kepulauan tempat sepertiga dari tuna dunia ditangkap, kata Andrew Jones, Wakil Direktur Jenderal Komunitas Pasifik dalam sebuah pernyataan.

“Nelayan pesisir yang menyediakan makanan bagi penduduk pulau, akan kehilangan 65 persen hasil tangkapan mereka. Itu berarti kehilangan sekitar dua kali makan per keluarga per minggu hingga perlu ada protein sehat, bersih, dan gratis yang menggantikannya," kata dia kepada wartawan.

Jones menambahkan bahwa akibat pemanasan global maka banjir dahsyat akan meningkat, dan air asin akan mencemari air minum, mengurangi kemampuan untuk hidup di pulau-pulau.

Negara-negara kepulauan Pasifik telah meminta bantuan keuangan untuk adaptasi perubahan iklim dan tindakan yang lebih tegas dari negara-negara maju untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil.

"Kita sedang berjuang melawan arus yang sangat kuat yang menyeret kita ke perairan yang sangat berbahaya dan kita harus melakukan segala daya upaya untuk berjuang kembali ke batas target 1,5, derajat Celsius," kata utusan iklim Kepulauan Marshall, Tina Stege.

Sedangkan Menteri Perubahan Iklim Vanuatu, Ralph Regenvanu, mendesak negara-negara seperti Australia, anggota terbesar blok regional Pasifik dan pengekspor utama batu bara dan gas, untuk menghentikan perluasan ekspor bahan bakar fosilnya.

"Australia tidak berbuat cukup. Australia adalah produsen utama bahan bakar fosil, kita semua tahu bahan bakar fosil adalah pendorong utama krisis ini," kata dia.

Menanggapi pernyataan itu, Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, mengatakan transisi energi negaranya tidak bisa terjadi dalam semalam dan menambahkan bahwa gas memiliki peran penting dalam transisi menuju energi terbarukan. SB/AFP/I-1

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
Advertisement
jjroyal-luwak
Daerah
Salahgunakan QR Warga, Pert...
Advertisement
Jadwal Liga Champions: PSG Ditantang Barcelona, Bayern Muenchen Jamu Arsenal

Jadwal Liga Champions: PSG Ditantang Barcelona, Bayern Muenchen Jamu Arsenal

20 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.