Ekspansi Dunia Usaha Tertahan
📅 Jumat, 21 Agu 2026, 06:10 WIB | Oleh: Tim RedaksiKinerja Perekonomian - Kenaikan Suku Bunga The Fed Dorong Biaya ULN Makin Mahal
Kontraksi ULN swasta mencerminkan dunia usaha menahan ekspansi akibat lemahnya permintaan dan prospek bisnis, sementara kenaikan ULN pemerintah berisiko memperberat beban utang dan mempersempit ruang fiskal.
JAKARTA – Pertumbuhan ekonomi nasional dinilai masih terlalu bergantung pada belanja pemerintah, sementara kontribusi sektor swasta belum optimal. Kondisi ini tercermin dari meningkatnya porsi utang pemerintah dalam struktur Utang Luar Negeri (ULN).
Ketergantungan tersebut menjadi sinyal bahwa penguatan konsumsi dan investasi swasta perlu dipercepat agar pertumbuhan lebih sehat, berkelanjutan, dan tidak terlalu bergantung pada stimulus fiskal.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira menilai melambatnya pertumbuhan ULN swasta menjadi sinyal tekanan terhadap perekonomian karena utang luar negeri umumnya digunakan perusahaan untuk ekspansi, pembelian mesin, dan penambahan tenaga kerja. Tekanan sektor swasta juga tercermin dari PMI Manufaktur yang sempat turun ke level 46 serta pelemahan Indeks Penjualan Riil Bank Indonesia pada kuartal II 2026.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Kontraksi ULN swasta menunjukkan dunia usaha cenderung menahan ekspansi karena permintaan dan prospek bisnis belum kuat,” ujar Bhima di Jakarta, Rabu (19/8).
Di sisi lain, lanjutnya, kenaikan ULN pemerintah dinilai mencerminkan risiko fiskal yang belum dikelola optimal. Dia menilai belanja pemerintah, termasuk program Makan Siang Sekolah Bergizi dan Koperasi Desa/ Kelurahan (Kopdeskel) Merah Putih, belum terlihat meningkatkan kemampuan pemerintah membayar kewajiban utang.
Menurut Bhima, idealnya, belanja produktif mampu meningkatkan produktivitas dan rasio pajak sehingga menciptakan sumber penerimaan baru untuk membayar cicilan utang. “Karena itu, pemerintah dinilai perlu mengevaluasi efektivitas belanja agar tidak sekadar meningkatkan utang, tetapi juga memperkuat kapasitas fiskal dan kemampuan pembayaran dalam jangka panjang,” kata Bhima.
Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), total ULN Indonesia pada kuartal II-2026 naik 4,4 persen menjadi 453,4 miliar dollar AS, dengan ULN pemerintah sebesar 216,3 miliar dollar AS. Perkembangan tersebut disebabkan oleh peningkatan ULN publik, baik pemerintah digital maupun bank sentral, di tengah kontraksi pertumbuhan ULN swasta yang lebih rendah.
Posisi ULN pemerintah pada triwulan II-2026 tercatat sebesar 216,3 miliar dolar AS, atau tumbuh 2,9 persen (yoy) Perkembangan ULN pemerintah tersebut terutama dipengaruhi aliran masuk pada Surat Berharga Negara (SBN) Sementara itu, peningkatan ULN bank sentral terutama didorong oleh kenaikan kepemilikan non-residen terhadap instrumen moneter Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sejalan dengan operasi moneter pro-market dan upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak ketidakpastian global yang kembali meningkat.
Persempit Fiskal
Peneliti Makroekonomi dan Pasar Keuangan di Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indomesia (LPEM FEB UI) Teuku Riefky menilai kenaikan Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia masih dalam batas wajar, tetapi perlu diikuti kehati-hatian, terutama karena Debt Service Ratio (DSR) berpotensi meningkat di tengah tren suku bunga global yang masih tinggi.
Rasio ULN terhadap PDB sebesar 30,6 persen dinilai masih aman berdasarkan standar kehati-hatian internasional.
Namun, menurut Teuku, indikator yang lebih penting adalah kemampuan Indonesia membayar bunga dan pokok utang.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!