Uji Coba MBG Model Prasmanan Mulai Diterapkan, Tekan Risiko Keracunan dan Kerusakan Pangan
📅 Selasa, 06 Okt 2026, 17:53 WIB | Oleh: OpikJAKARTA - Badan Gizi Nasional (BGN) tengah mengembangkan uji coba model penyajian Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui sistem prasmanan di sekolah untuk memperbaiki kualitas makanan yang disajikan lebih hangat dan segar kepada siswa.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengatakan uji coba tersebut tengah dilakukan pada sebagian Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk melihat efektivitas model dalam menjaga kualitas makanan, sekaligus mengurangi jeda waktu antara proses memasak dan konsumsi.
"Di tanggal 5 Oktober kita sudah piloting (percobaan) di mungkin lebih dari 60 dapur untuk prasmanan di kelas. Jadi, makanan dibawa hangat-hangat ke kelas, kemudian disajikan di kelas," ujar Sudaryono dalam keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta, Selasa (6/10).
Sudaryono menjelaskan model yang disebut central kitchen (dapur terpusat) ini sedang dikaji dan diuji coba dengan meniru sistem penyediaan makan sekolah di Jepang. Model tersebut memiliki sejumlah keunggulan karena waktu tunggu antara proses memasak hingga makanan disantap dapat ditekan.
“Kita harapkan satu, makanannya lebih enak karena hangat-hangat. Yang kedua, tentu saja lebih segar karena tidak ada delay (penundaan) waktu, sehingga mengurangi risiko kerusakan makanan yang kemudian menimbulkan gangguan kesehatan," paparnya.
Selain berkaitan dengan kualitas dan keamanan pangan, sistem prasmanan juga dinilai memiliki potensi untuk mengurangi makanan yang terbuang. Penerima manfaat dapat mengambil makanan sesuai kebutuhan, sementara makanan yang masih tersedia dapat dikonsumsi oleh penerima manfaat lainnya.
"Sejauh ini tadi saya dapat laporan, tingkat kehabisan makanannya bagus. Jadi lebih fresh (segar), kemudian ada yang mungkin mau nambah, masih ada sisa, bisa nambah, dan waste (sisa)-nya lebih sedikit karena prasmanan," kata Sudaryono.
BGN memandang model tersebut tidak hanya sebagai perubahan teknis dalam distribusi makanan, tetapi juga bagian dari penguatan fungsi edukasi dalam pelaksanaan MBG. Dalam skema ini sekolah turut dilibatkan untuk memastikan proses penyajian berjalan dengan baik dan sesuai dengan standar yang ditetapkan.
Sudaryono menjelaskan pelaksanaan prasmanan membutuhkan kesiapan baik dari pihak dapur maupun sekolah. Siswa dapat dilibatkan dalam proses pelayanan secara terjadwal, dengan tetap memperhatikan penggunaan perlengkapan yang sesuai dan tata kelola kebersihan.
"Kalau prasmanan ini sudah terbiasa akan bagus, sama seperti di negara lain, namun memang perlu ada training (pelatihan) yang cukup," tuturnya.
BGN saat ini terus memantau pelaksanaan uji coba di berbagai wilayah. Hasil evaluasi akan menjadi bahan untuk menentukan pengembangan model prasmanan secara lebih luas, dengan mempertimbangkan kesiapan dapur, sekolah, sumber daya manusia, serta karakteristik penerima manfaat di masing-masing daerah. Ant
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!