Pingtar Dorong Model Pembelajaran Berkelanjutan bagi Pekerja lewat WhatsApp
📅 Kamis, 20 Agu 2026, 16:50 WIB | Oleh: Haryo BronoJAKARTA – Perusahaan impact-tech asal Indonesia, Pingtar, memanfaatkan WhatsApp sebagai kanal pembelajaran dan komunikasi untuk memperluas akses pengembangan keterampilan di tempat kerja. Hingga kini, berbagai program yang dikembangkan Pingtar telah menjangkau lebih dari 50.000 orang melalui inisiatif pembelajaran di tempat kerja dan program sosial.
Langkah tersebut dilakukan di tengah tantangan rendahnya partisipasi pekerja dalam kegiatan pembelajaran terstruktur. Studi regional International Labour Organization (ILO) pada 2026 mencatat hanya 12,6 persen penduduk usia kerja di Asia dan Pasifik yang mengikuti kegiatan pembelajaran terstruktur.
Temuan tersebut menunjukkan perlunya model pembelajaran yang lebih mudah diakses, fleksibel, dan modular, terutama bagi pekerja yang memiliki keterbatasan dalam mengikuti pelatihan konvensional.
Kebutuhan terhadap model pembelajaran yang lebih fleksibel semakin penting seiring perubahan teknologi, regulasi, kebutuhan keterampilan, serta tuntutan terhadap praktik bisnis yang bertanggung jawab.
Bagi perusahaan yang memiliki tenaga kerja dalam jumlah besar dan tersebar di berbagai lokasi, tantangannya tidak hanya menyampaikan materi pelatihan, tetapi juga menjaga agar pembelajaran dan komunikasi tetap berlangsung setelah sesi formal berakhir.
Sebaiknya Anda baca juga:
Co-Founder dan CEO Pingtar, Arvinda Tripradopo, mengatakan pembelajaran di tempat kerja perlu memberikan ruang bagi pekerja untuk memahami, merespons, dan menghubungkan materi dengan kondisi yang mereka alami.
“Yang lebih penting adalah menciptakan cukup banyak kesempatan bagi mereka untuk memahami, merespons, dan menghubungkan informasi tersebut dengan apa yang mereka alami di tempat kerja,” ujar Arvinda melalui siaran pers pada Kamis (19/8).
Menurut dia, WhatsApp menjadi salah satu kanal yang practical untuk menjaga percakapan tersebut tetap berlangsung, khususnya bagi pekerja yang tidak rutin menggunakan platform pembelajaran internal perusahaan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Memanfaatkan Kanal yang Familiar
Alih-alih meminta pekerja berpindah ke platform baru, Pingtar menggunakan kanal komunikasi yang sudah dikenal dalam keseharian untuk menyampaikan materi pembelajaran singkat, mengajukan pertanyaan, mengumpulkan respons, dan menjaga komunikasi secara berkelanjutan.
Pendekatan tersebut menggabungkan microlearning, pulse check, dan masukan dari pekerja. Dengan metode tersebut, perusahaan dapat memperoleh gambaran mengenai kondisi tenaga kerja di antara pelaksanaan pelatihan, audit, maupun asesmen formal.
Pendekatan berbasis WhatsApp dinilai relevan bagi pekerja frontline, termasuk mereka yang bekerja di pabrik, perkebunan, maupun lokasi kerja yang tersebar. Kelompok pekerja tersebut belum tentu memiliki akses rutin terhadap email perusahaan, komputer, atau platform pembelajaran internal.
Selain digunakan untuk pembelajaran di tempat kerja, pendekatan Pingtar juga telah diterapkan dalam sejumlah program sosial. Perusahaan menyebut program bersama berbagai lembaga swadaya masyarakat dan badan riset telah menjangkau hampir 10.000 keluarga berpenghasilan rendah.
Pingtar juga mengembangkan program pembelajaran mengenai transisi energi yang tersedia dalam lima bahasa.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!