Tekanan Datang Bersamaan, IHSG Hari Ini Terjerembap
📅 Senin, 28 Sep 2026, 18:28 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencerminkan tekanan ganda dari sentimen global dan domestik.
Ketidakpastian geopolitik serta arah kebijakan ekonomi global menahan minat investor, sementara faktor dalam negeri turut memperkuat sikap hati-hati.
Kombinasi kedua tekanan tersebut membuat arus dana ke pasar saham lebih selektif dan menjaga volatilitas IHSG tetap tinggi.
IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (28/9) sore, ditutup melemah 94,03 poin atau 1,51 persen ke posisi 6.147,86 terbebani oleh kombinasi sentimen dari tingkat global dan domestik.
Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 9,30 poin atau 1,50 persen ke posisi 611,81.
"Sentimen eksternal dan internal membebani pergerakan IHSG. Dari eksternal, bursa regional Asia cenderung bergerak melemah seiring ketidakpastian yang kembali muncul di Timur Tengah dan harga minyak yang lebih tinggi,” ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus alias Nico dalam kajiannya di Jakarta.
Dari mancanegara, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menolak proposal terbaru Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Trump juga mengatakan bahwa Teheran telah bertindak berlebihan dan mengharapkan negosiasi dilanjutkan pada pekan ini.
Selain itu, sentimen lainnya yaitu kenaikan imbal hasil obligasi Pemerintah AS, dengan imbal hasil 10 tahun mendekati 5,17 persen, yang menimbulkan kekhawatiran tentang kondisi keuangan global yang lebih ketat dan kenaikan suku bunga lebih lanjut.
Presiden Fed Cleveland, Beth Hammack mengatakan faktor-faktor tersebut bersamaan dengan kekhawatiran atas utang pemerintah, yang berkontribusi terhadap imbal hasil obligasi Treasury jangka panjang yang lebih tinggi.
Dari dalam negeri, Nico mengatakan kekhawatiran tetap ada seiring tingginya biaya minyak yang berpotensi berdampak ke fiskal.
BEI resmi mengubah batas bawah harga saham dari sebelumnya Rp50 menjadi Rp1, sebuah langkah reformasi pasar yang dinilai sebagai jawaban langsung atas kekhawatiran MSCI terkait struktur pasar modal domestik dan
Pada saat sama, BEI memperketat memperketat kriteria Full Call Auction (FCA), dengan menghapus pemicu non-fundamental yang mengakibatkan 92 saham keluar dari Papan Pemantauan Khusus.
Nico menilai penyesuaian harga tersebut untuk meningkatkan kepercayaan institusi global yang menunjukkan pasar modal Indonesia semakin terbuka, transparan, dan adaptif.
“Di sisi lain berpotensi menciptakan tekanan psikologis atau kepanikan bagi sebagian investor ritel dan rawan dimanfaatkan oleh para spekulan pasar modal untuk melakukan manipulasi jangka pendek,” ujar Nico.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!